PPDB SMAN/SMKN Liar Lagi

In Metropolis

DEPOK – Tahun ini Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMAN dan SMKN di Kota Depok, kembali seperti semula. Berdasarkan,  rapat Musyawarah Kelompok Kepala Sekolah (MKKS) dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat pada Senin (14/5), di Hotel Grand Hani Jalan Raya Lembang KM12,1 No15, Lembang, Bandung. Sekolah mesti mendahulukan siswa warga penduduk sekitar (WPS).

Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Wilayah 2, Dadang Ruhiyat mengatakan, kebijakan baru yang ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), untuk PPDB 2018 yang paling signifikan adalah kuota penerimaan siswa baru melalui jalur akademik dan non akademik.

“Tahun lalu yang lewat jalur akademik 60 persen tahun ini jadi 40 persen. Itu yang prinsipil sekali,” katanya kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Perbedaan yang signifikan juga terjadi pada kuota untuk siswa yang berasal dari luar daerah. Tahun lalu hanya melalui Nilai Hasil Ujian Nasional (NHUN) kini ditambah dengan jalur prestasi.

Bukan hanya itu, lanjut Dadang, tahun ini seluruh SMA Negeri harus mendahului calon siswa yang akan mendaftar berdasarkan jarak terdekat dari rumah ke sekolah. Hal itu dahulu bernama Bina Lingkungan kini berganti menjadi Warga Penduduk Setempat (WPS).

“Dulu hanya sekolah tertentu, sekarang semuanya sudah diberlakukan. Sistemnya spiral, semakin dekat dengan sekolah semakin besar siswa tersebut keterimanya,” lanjutnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala SMAN 1 Depok, Supyana mengatakan, pihaknya hanya dapat mengikuti kebijakan baru yang dikeluarkan, MKKS bekerjasama dengan Kepala Disdik Provinsi Jawa Barat. Mengingat saat ini kebijakan SMA dan sederajat merupakan kewenangan provinsi.

“Saya mah ikut saja mungkin itu yang terbaik buat masyarakat. Ini kan untuk mengakomodir masyarakat di sekitar sekolah, semoga berjalan dengan lancar dan berkeadilan,” kata Supyana saat ditemui di sekolah.

Supyana mengatakan, kebijakan baru yang bertujuan untuk mengakomodir masyarakat salah satunya adalah kebijakan tentang Bina Lingkungan yang kini bernama WPS. Ia mengatakan, jika dahulu sekolah tidak mengakomodir warga di sekitar sekolah, namun tahun ini ada peraturannya.

“Umumnya bangunan sekolah di Depok tanahnya berdiri di tanah fasos-fasum. Sehingga ada keinginan warga di sekitar sekolah yang fasilitasnya dipakai sekolah untuk anaknya bersekolah disitu, dan sekarang sudah ada payung hukumnya yang mengatur tentang prioritas warga sekitar yang tinggal di dekat sekolah,” katanya.

Supyana melanjutkan, saat ini warga yang tinggal di sekitaran sekolah harus berbangga, jika anaknya memiliki nilai yang sama dengan siswa lain namun tinggal jauh dari sekolah.

“Misalnya anak memiliki nem 39 tapi berada di dekat sekolah, itu bisa diterima dibandingkan dengan nilai yang sama tapi jauh dari sekolah. Intinya unsur kedekatan dengan warga itu masih diperhitungkan, waktu itu tidak semua tapi sekarang sudah serentak,” katanya.

Dengan begitu, lanjut Supyana, pemerintah berusaha menghilangkan kesan sekolah favorit dan membuat semua sekolah itu kualitasnya sama baik negeri atau swasta.

Terkait proses pendaftaran, Supyana mengatakan, tahun ini tetap dilaksanakan secara online, namun bedanya tahun ini didaftarkan oleh pihak sekolah. Sehingga orangtua dan calon siswa hanya perlu datang kesekolah yang dituju, sebagai sekolah pilihan utama.

“Nanti setelah membawa berkas, pihak sekolah yang entry data namanya. Dan hasilnya jg bisa dilihat di online,” lanjut dia.

Supyana menjelaskan di SMAN 1 tiap kelas menerima 36 siswa, dengan sembilan hingga 12 rombongan belajar (rombel). “Kalau di SMAN 1 tahun lalu nilai terendah yang diterima disini 36-37, dan untuk nilai tertinggi sekitar 39,” jelasnya.

Terpisah, Kepala SMAN 8, Nurlaely mengatakan, kebijakan tahun ini terbilang sangat menguntungkan bagi pihak sekolah maupun masyarakat sekitar. Misalnya terkait WPS. Menurutnya, sekolah bagaimana pun pasti terkait dengan warga sekitarnya.

“Kita selalu kerjasama dengan kelurahan, kecamatan, RT RW di lingkungan sini. Tapi tahun lalu tidak memfasilitasi mereka. Dengan adanya WPS ini alhamdulillah terfasilitasi sesuai juknis kita tidak menyalahi aturan,” katanya.

Nurlaely menambahkan, sesuai dengan petunjuk pelaksanaan, tahun ini juga disebutkan porsi untuk WPS dan menggunakan jarak yang diutamakan warga sekitar dulu. Dimana, kuota penerimaan antara lain Kuota Keluarga Ekonomi Tidak Mampu (KETM) 20 persen, WPS 10 persen, Penghargaan Maslahat Guru (PMG) dan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) 5 persen, prestasi 10 persen dan NHUN 40 persen.

Terkait mekanisme penginputan data, Nurlaely juga mengatakan, tahun ini banyak mengalami perbaikan. Pasalnya berkaca pada tahun sebelumnya, saat orangtua yang input sendiri banyak masalah mengingat tidak semua orangtua memahami IT.

“Mereka tidak tahu cara menscannya, jadi sekarang dipermudah. Sistemnya datang kesekolah bawa berkas nanti yang scan dan input sekolah,” pungkas Nurlaely.

Perlu diketahui, teknis PPDB SMAN/SMKN tahun pelajaran 2015/2016 kuota yang diatur, keluarga miskin dan ABK sebanyak 20 persen dari daya tampung sekolah. Siswa berprestasi sebanyak 5 persen dari daya tampung. Untuk siswa luar Provinsi Jawa Barat sebanyak 1 persen dari daya tampung, untuk SMA dan SMK.

Bagi siswa luar Kota Depok dalam Provinsi Jawa Barat sebanyak 5 persen dari daya tampung untuk SMA dan SMK, dam sebanyak 1 persen dari daya tampung untuk SMP. Untuk lintas zona kuota sebanyak 10 persen dari daya tampung. Dalam Zona sebanyak 58 persen dari daya tampung untuk SMAN/SMKN. (san)

You may also read!

Pengalaman Menentukan Hasil

YEKATERINBURG – Prancis berkesempatan menyegel tiket untuk lolos ke babak 16 besar Piala Dunia, Kamis (21/6) malam WIB mendatang.

Read More...

Jadwal Piala Dunia 2018 Malam Ini, Kamis 21 Juni 2018

MOSKOW–Sesuai jadwal Piala Dunia 2018 Rusia hari kedelapan, ada tiga pertandingan yang akan dihelat malam ini, Kamis (21/6/2018) hingga

Read More...

Lain Cerita Jika Salah Tidak Cedera

RUSSIA-Gol tunggal Mohamed Salah dari titik penalti menjadi satu-satunya gol hiburan untuk Mesir saat mereka ditekuk Rusia 1-3, Rabu

Read More...

Mobile Sliding Menu