Miris, Makam Keturunan Walisongo di Depok tak Terawat

In Metropolis
Ahmad Fahri/Radar Depok
NYAMAN: Suasana nyaman dapat kita rasakan jika berada di makam bersejarah di Hutan UI, namun kondisi tersebut masih butuh perhatian Pemda setempat, terlebih memanfaatkan makam sebagai bangunan cagar budaya.

DEPOK – Pasti masih banyak yang belum tahu dengan keberadaan makam bersejarah di Hutan Universitas Indonesia (UI) Depok. Padahal, khalayak luar Kota Depok berjubel datang untuk berziarah. Keberadaan makam bersejarah di hutan UI ini, tidak sulit untuk ditemukan.

Jika berada di dalam komplek UI, tinggal menuju kearah pintu keluar. Tapi, terus menyisir jalur paling kiri. Saat menelusuri sekitar beberapa ratusan meter hingga tidak ada bangunan, nanti berdiri kokoh pos keamanan milik Perhutani DKI Jakarta Selatan, disebelah kanan jalan. Itu artinya sudah sampai.

Tepat diseberang jalan ada jalan setapak untuk masuk ke makam bersejarah di Hutan Kota UI. Sesampainya di Pos Keamanan, Radar Depok bertemu dengan Septian salah satu keamanan perhutani DKI Jakarta. Dia menjelaskan, makam tersebut memang makam Syekh Abdurrahman bin Abdullah Al Maghribi atau yang terkenal dengan sebutan Mbah Takol.

Menurutnya, makam tersebut memang sudah sejak lama ada di dalam Hutan UI, karena sebelumnya kawasan tersebut merupakan pemukiman warga Betawi. “Makam ini memang sudah lama ada, dan merupakan makam pemuka agama pada masanya,” kata Septian hanya kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Dia mengatakan, perawat makam sebelumnya, Mbah Masri sejak tiga bulan terakir terbaring sakit, dan dirawat di salah satu rumah kerabatnya di Garut. “Mbah Masri sakit Jantung, sehingga saat ini tidak ada yang mengurus makam setiap harinya,” bebernya.

Namun dia mengaku, jika ada pengunjung makam yang ingin berjiarah, Septian hanya mempersilahkan untuk mendatangi makam tersebut. “Jadi kalau ada yang ingin berkunjung ke makam, saya hanya bisa mengantar ke makam,” terangnya.

Dia menceritakanm, secara singkat sosok yang dimakamkan ditempat tersebut bernama Syekh Abdurrahman bin Abdullah Al Maghribi. Biasa disebut Mbah Takol. “Mbah Takol semasa hidupnya selalu berpindah-pindah dalam melakukan dakwah,” katanya.

Ajaran yang dikembangkan Syekh Abdurrahman Al Maghribi, menurut Septian tidak jauh berbeda seperti yang diajarkan ulama-ulama terdahulu. Makam ini tergolong makam tua di wilayah Jakarta.

Keberadaan makam ini juga pernah membuat orang Jawa Timur penasaran. Beberapa orang tersebut bahkan mengatakan jika Syekh Abdurrahman ini masih berkaitan dengan keluarga ‘Al Maghribi’ yang banyak terdapat di Jawa Timur.

Memang jika menilik nama laqob ‘Al Maghribi’ menunjukkan jika nama tersebut identik dengan keluarga besar Walisongo. Namun, jangan lupa gelar AL Maghribi ini juga sering disematkan kepada keluarga keturunan Sayyidina Hasan, yang berasal dari Maroko. Perlu diketahui juga kalau Al Maghribi itu adalah nama lain Maroko pada masa lalu.

Jika memasuki makam memang seperti memasuki Kampung Betawi. Disini terdapat pemakaman warga yang berada di sekeliling makam Mbah Takol. “Disitu masih ada sumur tua,” terang Septian.

Menurutnya, keberadaan makam Syekh Abdurrahman bin Abdullah Maghribi sampai saat ini masih terjaga dan bertahan dengan baik ditengah bangunan-bangunan Universitas Indonesia. Hanya saja, saat Mbah Masri sakit banyak pengunjung yang kecewa, karena tidak dapat mendapat keterangan dan pemahaman lebih jelas. “Saya disini hanya memberitahu sebatas pengetahuan saya saja, selebihnya biasanya pengunjung berdoa sendiri,” ujarnya.

Sementara, jika ada penjiarah dia hanya menyampaikan pesan dari Mbah MAsri. “Menurut Abah kalau datang ke tempat makam seperti Waliyullah Syekh Abdurrahman, jangan meminta yang macam-macam, cukup berdoa dan juga mengenang kembali akan jasanya dalam menyebarkan agama Islam. Abah mengatakan, ajaran Syekh Abdurrahman Al Maghribi tidaklah neko-neko. Ajarannya cukup singkat, ‘jalani saja Islam secara baik dan sempurna’,” kata Septian menirukan petuah Mbah Masri.

Sampai saat ini makam tersebut tidak pernah sepi dari peziarah. Ada saja yang datang. Bahkan pernah juga ada serombongan polisi yang datang ketempat ini untuk menyelesaikan sebuah kasus. Ketika mereka datang ke tempat ini, justru mereka merasa nyaman karena memang suasana di tempat ini sepi dan tenang.

Mereka kemudian memasak dan makan di tempat ini. Ada juga yang pernah beberapa hari nginap, karena merasa tempat ini menjadikan dirinya tenang. Memang jika datang ketempat ini, rasanya berbeda, selain sepi suasana hijau membuat jadi lebih nyaman.

Dia mengatakan, makam Syekh Abdurahman luput dari perhatian pihak berwenang, sebagai sebuah situs sejarah, menurutnya makam ini harusnya diurus dan dipelihara keberadaannya oleh dinas terkait, seperti misalnya Dinas Sejarah atau UI sendiri.

Selain makam Syekh Abdurrahman bin Abdullah Al Maghribi, juga terdapat makam pengikutnya, disamping paling kanan dari arah pintu masuk adalah Nyi Dasimah dari Cirebon, kemudian ditengahnya ada makam Kyai Mojo (bukan Kyai Mojo yang dekat dengan Pangeran Diponegoro), dan di depan makam ketiganya ada satu makam yang bernama Syekh Jalaludin Al Maghribi.

Menimpali hal ini, Humas Universitas Indonesia, Rifley Dewi membenarkan terdapat makam bersejarah di kawasan Hutan UI, namun dia mengaku tidak mengetahui secara detail keberadaan makam tersebut. “Saya tahu tapi tidak detail,” singkatnya.(rub)

You may also read!

Naik Level

Sewindu. Tahun ini, 15 Juli 2018 Harian Radar Depok alhamdulillah sudah beranjak usia ke delapan. Perjalanan panjang dilalui dari

Read More...

Semarak, Nobar Final Piala Dunia di Rutan Depok

DEPOK – Nonton bareng (nobar) final Piala Dunia 2018 antara Perancis melawan Kroasia, Minggu (15/7) malam, berlangsung semarak di

Read More...

13 Korban Guru Cabul di Depok Direhabilitasi

DEPOK – Komisi Perlindungan Anak Indoneisa (KPAI), terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Depok. Teranyar, 13 korban guru WA sudah

Read More...

Mobile Sliding Menu