Menikmati Hari Tua Tanpa Osteoporosis

In Ruang Publik

Oleh : Evi Heryanti, SKM*)

Menikmati usia senja dengan sehat sambil bermain dengan cucu-cucu tercinta merupakan impian para lansia alias lanjut usia. Tetapi kebanyakan dari masyarakat sekarang  di hari tua malah ditemani oleh penyakit degeneratif seperti stroke, jantung, hypertensi, DM dan osteoporosis.

Osteoporosis  menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas hidup lansia akibat cacat, tidak bisa beraktivitas, stres bahkan depresi. WHO menyebutkan sekitar 200 juta orang menderita Osteoporosis di seluruh dunia. Dan diperkirakan pada tahun 2050 angka patah tulang pinggul akan meningkat 2 kali lipat pada wanita dan 3 kali lipat pada pria. Sedangkan menurut DEPKES (2006) dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko terkena penyakit osteoporosis.

Osteoporosis umumnya diderita oleh orang yang berusia 50 tahun ke atas, tetapi tidak menutup kemungkinan anak muda pun bisa menderita penyakit tersebut. Semakin tua usia, risiko terkena osteoporosis semakin besar karena secara alamiah tulang semakin rapuh sejalan dengan bertambahnya usia.      Osteoporosis pada usia lanjut terjadi karena berkurangnya massa tulang yang juga disebabkan menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium Namun orang belum mengetahui bahwa dirinya terkena osteoporosis sampai orang tersebut mengalami fraktur atau patah tulang yang dapat mengakibatkan cacat tubuh, hingga menyebabkan komplikasi dan bahkan kematian.

Osteoporosis atau tulang keropos merupakan keadaan dimana massa tulang berkurang, terjadi gangguan struktur tulang dan penurunan kualitas tulang  sehingga tulang menjadi rapuh dan  mudah patah. Pada wanita resikonya lebih besar daripada laki-laki. Apalagi setelah mengalami masa postmenopause. Penyebabnya yaitu berkurangnya hormon estrogen dimana hormon ini yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang. Sehingga jika hormon ini berkurang, maka pengangkutan kalsium ke dalam tulang juga mengalami penurunan.

Menurut Riig dan Melton (1983) ada 3 jenis osteoporosis yaitu : yang pertama adalah osteoporosis yang terjadi akibat proses penuaan (osteoporosis primer). Yang kedua osteoporosis yang dipengaruhi oleh penyakit yang mendasari, akibat obat-obatan dan lain-lain (osteoporosis sekunder). Pada osteoporosis sekunder, terjadi penurunan densitas tulang yang cukup berat. Yang ketiga yaitu osteoporosis Idiopatik, osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya dan ditemukan pada usia kanak-kanak (juvenil), usia remaja (adolesen), pria usia pertengahan.

Faktor risiko osteoporosis terbagi menjadi 2 yaitu faktor risiko yang dapat dikendalikan seperti gaya hidup, aktivitas fisik, merokok, kurangnya asupan kalsium, stres, mengkonsumsi obat golongan kortikosteroid dan bahan kimia, dan faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan jenis kelamin, usia, ras/suku, riwayat keluarga, bentuk tubuh dan gangguan hormonal.

Osteoporosis merupakan penyakit yang bisa dicegah. Pemeriksaan bisa dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang itu sudah menderita osteoporosis atau tidak. Beberapa teknik mendiagnosis osteoporosis yaitu dengan cara DXA Scan (menggunakan radiasi untuk memeriksa tulang punggung), DXA Scan perifer (mengukur kepadatan tulang pada tumit atau lengan bagian depan), USG (untuk menilai struktur dan kekuatan tulang) dan Sinar X ( untuk mengidentifikasi patah tulang).

Bagi orang-orang yang masih berusia produktif, pencegahan osteoporosis dapat dilakukan dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup yang bisa didapat dari susu dan makanan sehari-hari yang kaya kalsium seperti ikan teri, brokoli, tempe, tahu, keju dan kacang-kacangan, berjemur di bawah matahari pagi sebelum jam 9 pagi, karena sinar matahari membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang, olahraga secara teratur minimal 3x seminggu dengan durasi waktu minimal 30 menit, tidak merokok dan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol serta memeriksakan kepadatan tulang secara dini.

Sedangkan untuk orang yang sudah menderita osteoporosis dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan sumber kalsium, vitamin D yang adekuat, menghindari rokok, alkohol, kopi, soft drink, mengurangi makanan yang mengandum natrium serta meningkatkan asupan sayur dan buah.

Dan yang paling penting bagi para lansia yang sudah mengalami osteoporosis agar dapat dijaga jangan sampai mengalami cedera atau jatuh dengan berhati-hati pada saat di rumah maupun berada di luar rumah. Nikmati hari tua dengan bahagia dan tetap berkarya. (*)

*)Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana FKM Universitas Indonesia.

 

You may also read!

Setengah Bulan Tanpa Ilmu, Disdik Depok: Aspirasi Akan Disampaikan ke Pusat

DEPOK – Jika ini benar, anak didik di Kota Depok akan ketinggalan pelajaran. Kemarin, puluhan guru honorer, yang tergabung

Read More...

Pasar Kemirimuka Depok Tidak Bisa Diesekusi

DEPOK – PT Petamburan Jaya Raya (PJR) semakin terpojok saja. Kemarin, dalam sidang lanjutan Derden Verzet, sengketa lahan Pedagang

Read More...

Sebulan TMMD Garap Cipayung, Kota Depok

DEPOK – Kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 103 pada Tahun 2018 resmi dibuka, di Lapangan Serong, Kecamatan

Read More...

Mobile Sliding Menu