Kini saatnya Pria Ber-KB

In Ruang Publik

Oleh: Dyana Santika Sari, SKM*)

Setengah abad lamanya Pemerintah Indonesia sejak 1967 memulai program Keluarga Berencana (KB). Sumbangsih terbesar berhasil dirasakan, penurunan Total Fertility Rate (TFR) dari 5,6 (tahun 70-an) menjadi 2,8 (SDKI 1990) dan kini stagnan di angka 2,6 dalam 10 tahun terakhir (SDKI 2002,2012). Berbagai upaya lain dilakukan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk antara lain penggalakan program GenRe (Generasi Berencana), kampung KB, penggunaan KB pasca salin dan pasca keguguran. Sasarannya tentu saja lebih melibatkan wanita.
KB identik dengan urusan wanita. Data menunjukan 93,66% partisipasi KB pada wanita (akseptor) sementara pria hanya menyumbang 6,34%. Hal ini tentu masih jauh dari target 8% peserta KB pria yang diharapkan (BKKBN, 2014). Berbagai pilihan alat KB untuk wanita baik metode jangka pendek maupun panjang namun sedikit pilihan untuk pria. Wanita dengan pengorbanannya mengandung dan melahirkan juga harus menentukan perencanaan ber-KB sendiri yang semestinya dibicarakan juga dengan pasangan. Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Bogor sebesar 65,71 % pengambilan keputusan ber-KB berasal dari istri sementara 31,42% dilakukan bersama pasangan (Anggi, 2013). Belum lagi efek samping KB yang kerap kali dikeluhkan kaum wanita terkait perubahan hormonal yang dirasakan. Perubahan bentuk tubuh, ketidakteraturan menstruasi, dan kekhawatiran kegagalan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak konsistenan pemakaian jenis KB.
Data SDKI tahun 2012 menunjukan penggunaan KB didominasi oleh angka non-MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) yaitu suntikan (52,49%) dan pil (18,95%), sementara capaian MKJP implan (8,08%), IUD (14,06%), MOW (3,27%) dan MOP (0,02%). Angka tersebut tentunya tidak sesuai dengan harapan dimana keefektifan dalam penundaan kehamilan non-MKJP cenderung lebih kecil. Lalu pertanyaannya apakah program yang ditawarkan pemerintah sudah tepat sasaran? Berbagai program sudah digalakan tapi mengapa masyarakat belum bijak memilih jenis KB?.
Menengok keberhasilan KB di negara lain, Indonesia termasuk lamban dalam implementasi. Ethiopia misalnya merupakan negara yang sukses tidak hanya menekan pertumbuhan namun juga meningkatkan kualitas penduduknya. Dan tantangan terbesar dapat mereka lalui dalam menjangkau penduduk nomaden selama 14 tahun. Indonesia yang sudah setengah abad lamanya menggaungkan KB dampaknya baru dirasakan belakangan ini dengan turunnya angka TFR namun pencapaian program tetap belum terpenuhi.
Pilihan ber-KB untuk pria sebenarnya sudah sejak lama diprogramkan namun pencapaiannya tetap rendah. Berbagai penelitian baik mandiri maupun hasil olahan survei nasional dilakukan untuk mengetahui determinan kepesertaan pria ber-KB. Pada kesimpulannya dihasilkan bahwa ada tiga faktor utama yang mempengaruhi partisipasi KB pria yaitu perbedaan peran jender antara suami dan istri, metode kontrasepsi yang terbatas, dan pengetahuan pria akan KB yang kurang (BKKBN, 2000). Adapun pelayanan kontrasepsi pria yang tersedia saat ini adalah vasektomi, kondom, pantang berkala, dan senggama terputus.
Dari pilihan pelayanan tersebut hanya vasektomi yang merupakan alkon paling efektif mencegah kehamilan dibanding yang lainnya. Namun alkon tersebut sangat jarang diminati. Data SDKI (Survei Demografi Kesehatan Indonesia) tahun 2012 menunjukan vasektomi hanya menyumbang 0,2% dari jumlah populasi Indonesia. Mengapa demikian? tentunya masyarakat kita masih memandang vasektomi sebagai suatu indikasi medis yang berhubungan dengan pembedahan dan efek samping seperti membuat keadaan seksual terganggu. Walaupun sampai sekarang tidak ada pembuktian ilmiahnya. Belum lagi stigma yang berkembang bahwa dengan vasektomi maka selamanya tidak bisa menghasilkan keturunan. Vasektomi bukan berarti tidak menghasilkan keturunan lagi tetapi sifatnya yang hanya membatasi. Apabila setelah beberapa tahun ingin punya keturunan lagi, maka vasektomi bisa dilepas (Berbagai sumber). Jika sebagian besar pria bisa melakukannya maka dapat dipastikan angka fertilitas akan menurun tajam.
Berbagai program dilakukan dalam hal ini BKKBN untuk menggalakan partisipasi KB pria, tercatat berbagai daerah seperti Situbondo, Kalimantan Selatan, dan Medan pecahkan rekor MURI untuk pelayanan vasektomi di tahun 2012 lalu. Berita ini sungguh menggembirakan bagi sejarah perkembangan KB pria di Indonesia. Sebanyak 1.575 akseptor pria berpartisipasi dalam kegiatan di Medan.
Tentunya angka ini masih bisa meningkat mengingat sebagian besar peserta masih didominasi di wilayah perkotaan. Tugas selanjutnya adalah dengan mensosialisasikan kegiatan lanjutan di berbagai daerah pedesaan dan pedalaman. Pengetahuan dan pendidikan yang merupakan determinan sekiranya menjadi tantangan besar yang harus mampu dilewati. Terlepas dari itu semua, inovasi baru tentang pilihan alkon pria kiranya bisa ikut membantu seperti KB suntik pria ataupun pil. Ditambah dengan promosi KB pada generasi muda pria guna menyiapkan kesiapan mereka merencanakan alkon ketika berkeluarga. Apalagi pada generasi milenial sekarang ini yang melek teknologi.
Peluang emas bagi pemerintah untuk dapat merangkul mereka. Kabar baik lainnya, aturan baru yang termuat dalam Perpres No.19 tahun 2016 bahwa peserta BPJS kini bisa menggunakan layanan KB secara gratis. Semua upaya dan dukungan Pemerintah tersebut merupakan kesempatan besar bagi bangsa ini dalam mengurangi pertumbuhan penduduk sekaligus merubah isu jender dalam ber-KB. Kini saatnya Indonesia mempunyai generasi berencana dengan menghasilkan SDM berkualitas. Dengan begitu bonus demografi 2025-2030 pun akan bisa kita rasakan keuntungannya. Jadi masihkah para pria ragu untuk ber-KB?. (*)
*) Mahasiswa Magister Semester 2 FKM, Universitas Indonesia
dyana_santika@yahoo.co.id

You may also read!

Setengah Bulan Tanpa Ilmu, Disdik Depok: Aspirasi Akan Disampaikan ke Pusat

DEPOK – Jika ini benar, anak didik di Kota Depok akan ketinggalan pelajaran. Kemarin, puluhan guru honorer, yang tergabung

Read More...

Pasar Kemirimuka Depok Tidak Bisa Diesekusi

DEPOK – PT Petamburan Jaya Raya (PJR) semakin terpojok saja. Kemarin, dalam sidang lanjutan Derden Verzet, sengketa lahan Pedagang

Read More...

Sebulan TMMD Garap Cipayung, Kota Depok

DEPOK – Kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 103 pada Tahun 2018 resmi dibuka, di Lapangan Serong, Kecamatan

Read More...

Mobile Sliding Menu