JPU Pengadilan Negeri Depok: Tuntutan Importir Ekstasi Ditunda

In Metropolis

DEPOK – Sidang tuntutan importir ekstasi asal Belanda, Firman Ghazali kembali ditunda. Pembacaan tuntutan yang seharusnya digelar Selasa (8/5) lalu, terpasak diundur sampai Selasa (22/5). Kepastian itu, setelah kemarin Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus tersebut Kozar Kertyasa meminta untuk menunda sidang.

Menurut JPU belum bisa membacakan tuntutan terhadap terdakwa importir ekstasi asal Belanda, Firman Ghazali. Karena masih banyak tuntutan yang belum diselesaikan. “Masih banyak tuntutan yang belum selesai,” kata Kozar kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Di muka persidangan, dia mengaku akan membacakan tuntutan Selasa, (22/5) mendatang. Namun demikian, Hakim Ketua dalam persidangan tersebut, Teguh Arifiano menyayangkan sikap JPU yang selalu menunda-nunda tuntutan.

Dia meminta agar JPU segera membacakan tuntutan, karena sebelumnya juga telah meminta penundaan pembacaan tuntutan. “Kenapa ditunda-tunda terus, kita hidup ini sudah banyak tuntutan, jadi jangan menunda-nunda tuntutan,” kata Teguh disambut ketawa para pengunjung sidang.

Sementara sebelumnya, importir ekstasi asal Belanda, Firman Ghazali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jawa Barat, Selasa (24/4). Dalam sidang beragendakan keterangan saksi, dua personil Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Depok dan seorang petugas Satnarkoba Polresta Depok.

Dalam sidang yang dipimpin majelis hakim Teguh Arifiano dengan anggota Ramon Wahyudi dan Sri Rejeki Marsinta, saksi BNN Kota Depok mengatakan, penangkapan terhadap terdakwa Firman Ghazali di Jalan Artayasa Sawo Griya Kencana 1 Blok E/9 RT 4/1, Kelurahan/Kecamatan Limo, bermula dari adanya informasi dari petugas Kantor Pos Sawangan ke pihak BNN Depok. Itu dikarenakan adanya benda berbentuk pil di dalam surat yang akan dikirimnya.

Dari informasi tersebut pihak BNNK Depok beserta tim langsung menuju lokasi yang disebutkan. “Terlebih dulu kami mengecek kirimin tersebut tanpa membuka kiriman itu,” kata saksi BNN Depok dalam sidang di PN Depok.
Guna menjebak tersangka, sebelum petugas Pos Giro mendatangi lokasi untuk mengantarkan paket surat yang berasal dari Belanda. BNN Depok lebih dulu berkoordinasi dengan pihak Satnarkoba Polresta Depok, untuk menangkap tersangka.

Setelah paketan surat diterima tersangka, barulah personil BNN Depok dan Satnarkoba Polresta Depok menggeledahkan kediamannya tersangka. Dalam penggeledahan diketemukan kurang lebih seratus butir ekstasi yang mengandung amfetamin. Selain itu, diketemukan juga bong, timbangan elektrik dan satu paket ganja.

Ketika ditanya siapa pemilik dari ekstasi tersebut, tersangka mengatakan jika barang haram itu milik Lucil yang tinggal di Bandung. Tersangka mengatakan, alamatnya hanya dipakai atau dipinjam untuk pengiriman paket surat itu.

Terdakwa juga mengatakan, belum menerima upah dari pemakaian atau peminjaman alamat tersebut. Namun, dirinya tidak mengelak akan menerima upah jika pengiriman paket surat tersebut berhasil atau tidak ditangkap.

JPU Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok, Kozar Kertyasa dalam sidang dakwaan menjerat terdakwa dengan dakwaan alternatif. “Pertama dengan Pasal 114 Ayat 2 UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Kedua dengan dakwaan Pasal 112 Ayat 2 UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Kedua Pasal 111 Ayat 1 UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Atau, Ketiga dengan Pasal 111 Ayat 1 UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika,” kata Kozar Kertyasa. (rub)

You may also read!

Bali Bukan buat Liburan Sib…

BANDUNG – Persib Bandung akan melakoni laga tandang ke markas Bali United pada lanjutan Go-Jek Liga 1, pekan ke-11,

Read More...

Tim Thomas Indonesia Tembus Semifinal

BANGKOK–Tim Thomas Indonesia lolos ke babak semifinal Thomas-Uber Cup 2018 usai menaklukkan rival abadi, Malaysia di fase perempat final.

Read More...

Sebelum Catatan Amal Kita Terima

Oleh: H. Budi Subandriyo (Sekretaris DPD LDII Kota Depok) DEPOK – Ramadan tahun ini, sebagian besar putra-putri- kita tidak

Read More...

Mobile Sliding Menu