Bahaya Mengintai di Balik Keasyikan Konsumsi Tembakau

In Ruang Publik

Oleh: Ema Herlinawati*)

Setiap tanggal 31 Mei selalu kita peringati sebagai Hari Anti Tembakau Sedunia. Pertama kali diperkenalkan oleh WHO pada tanggal 31 Mei 1989 dengan tujuan agar masyarakat mengurangi atau bahkan menghentikan konsumsi tembakau dalam bentuk apapun , terutama rokok. Banyak hal sudah dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut diantaranya adalah gambar mengerikan di kemasan rokok selain peringatan dengan kata-kata.

Namun hal ini tidaklah cukup untuk menghentikan kebiasaan masyarakat yang sudah kecanduan merokok, mereka seolah tidak peduli dengan beberapa gambar mengerikan yang ada di kemasan rokok. Pemerintah juga sudah menaikkan cukai rokok, namun untuk saat ini sepertinya hal itu juga masih belum terlalu berpengaruh, mungkin jika pemerintah menaikkan cukai rokok lagi lebih tinggi hal ini akan menekan konsumsi rokok. Hal ini diakibatkan harga rokok yang sangat tinggi sehingga orang yang mau mencoba merokok tidak jadi melaksanakan karena mahalnya harga rokok.

Merokok bukanlah hal yang asing bagi semua orang. Hampir di semua tempat kita dapat menemukan kegiatan ini, baik dilakukan oleh laki-laki, perempuan, pekerja kantoran, sopir angkot ataupun profesi lainnya.Walaupun semua orang tahu dampak dan bahaya yang ditimbulkan oleh rokok, namun hal ini tidak menyurutkan konsumen rokok. Bahkan berdasarkan data dari Riskesdas 2013, perilaku perokok penduduk 15 tahun ke atas cenderung meningkat, dari 34,2% pada tahun 2007 menjadi 36.3% pada tahun 2013.

Kegiatan merokok tidak hanya dilakukan oleh kaum pria, bahkan wanita pun mengalami kecenderungan merokok yang meningkat. Selain itu ditemukan juga sebanyak 1.4% perokok adalah penduduk dengan usia 10-14 tahun. Hal yang sangat menyedihkan, dimana seharusnya anak-anak ini dalam usia pertumbuhan, namun mereka sudah terjebak pada rokok dan segala konsekwensi kesehatan yang harus diterima.

Jumlah perokok yang mengalami peningkatan adalah perokok dengan kepemilikan rendah dengan jenis pekerjaan petani/nelayan/buruh, sedangkan di masyarakat dengan kepemilikan yang lebih tinggi, angka perokok menurun pada tahun 2013. Hal inilah yang selalu menjadi pertanyaan, mengapa masyarakat miskin mampu membeli rokok setiap hari namun kebanyakan dari mereka adalah PBI JKN (Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional).

Rokok juga menjadi sumber keuangan negara yang cukup besar dari hasil pungutan cukai. Menurut data BPS, penerimaan negara dari sektor cukai selalu meningkat sejak tahun 2007. Inilah yang membuat ironi, pendapatan cukai yang begitu besar sebagian adalah sumbangan dari masyarakat miskin.

PPOK atau Penyakit Paru Obstruksi Kronis adalah penyakit kronis saluran nafas yang ditandai dengan hambatan aliran udara khususnya udara ekspirasi dan bersifat progresif lambat (semakin lama semakin buruk), disebabkan oleh pajanan faktor resiko diantaranya adalah merokok. Kebanyakan penederita PPOK adalah masyarakat dengan pendidikan dan kepemilikan rendah. Hal ini sejalan dengan perokok yang juga berasal dari pendidikan dan kepemilikan rendah. PPOK tertinggi di Nusa Tenggara Timur dan proporsi perokok tertinggi juga di NTT (Riskesdas 2013).

Begitu banyak dan bahaya yang ditimbulkan oleh rokok, dan hal ini bukan hanya berdasarkan asumsi namun beberapa studi juga sudah dilakukan utuk mendukung hal tersebut. Disini peran pemerintah sangat besar untuk menurunkan angka perokok di Indonesia yang sudah sangat tinggi mencapai 29.3% dengan rerata merokok 12.3 batang atau setara dengan 1 bungkus.

Hal lain yang dapat dilakukan pemerintah adalah penegakan hukum di kawasan Tanpa Rokok. Selama ini kita banyak melihat tempat-tempat umum dengan tulisan ‘Kawasan Tanpa Rokok’, namun kita masih bisa melihat beberapa orang tetap merokok entah mereka tidak tahu atau sengaja mengabaikan adanya KTR. Perokok ini juga jika dperingatkan oleh orang lain belum tentu mau mematikan rokoknya bahkan acapkali memberikan jawaban yang menyebalkan, terutam di angkot. Banyak penumpang angkot yang merasa kesal dan geram jika memperingatkan penumpang lain yang merokok sembarangan, seringkali mereka diberikan jawaban ‘naik aja mobil pribadi bu jika gak mau kena asap rokok’. Padahal bahaya yang dihadapi oleh perokok pasif ini sama besarnya dengan perokok aktif.

Satu hal lagi yang menjadi pemikiran adalah, kenapa tidak dikeluarkan fatwa haram merokok oleh MUI jika memang merokok itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Hal lain yang dapat kita lakukan sebagai masyarakat adalah mendidik anak-anak kita atau generasi selanjutnya dengan membekali mereka pendidikan anti merokok, dengan memperkenalkan bahaya rokok kepada generasi muda sedini mungkin.Semoga jumlah perokok di Indonesia dapat diturunkan dengan usaha bersama masyarakat dan pemerintah. (*)

*)Mahasiswa S2 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

You may also read!

Suami di Depok Cekik Istri Hingga Tewas

DEPOK – Yerimia terbilang sadis terhadap istrinya Risma Sitinjak. Pria berusia 28 tahun itu mencekik Risma hingga tewas, di

Read More...

Luas Tanah Pasar Kemirimuka Depok SK Gubernur dan SHGB Beda

DEPOK – Ada fakta baru yang disajikan dalam pembacaan replik di sidang gugatan Derden Verzet, di Pengadilan Negeri (PN)

Read More...

Hewan Kurban Sehat Diberi Tanda Pin

DEPOK – Jelang Hari Raya Idul Adha, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Depok memeriksa hewan kurban di

Read More...

Mobile Sliding Menu