Asyik Ingin Benahi Sungai Citarum

In Politika
RICKY/RADAR DEPOK
HADIR: Pasangan Asyik saat menghadiri Debat Publik kedua Pilgub Jabar 2018 di Balairung UI, Depok, Senin (14/5).

DEPOK – Kualitas air di Sungai Citarum itu berada di kategori IV (tercemar berat). Untuk itu Pasangan Cagub dan Cawagub pada Pilgub 2018, Sudrajat – Ahmad Syaikhu (Asyik) akan memberikan perhatian khusus untuk sungai terbesar dan terpanjang di tataran Pasundan.

“Kalau kalau isu Citarum kita sangat prihatin. Citarum ini ditagline sebagai sungai kelas D. Sungai yang terkotor itu nanti kita akan cari siasat-siasat bagaimana yang membereskan ini semua,” tutur Sudrajat sebelum Debat Publik kedua Pilgub Jabar 2018 di Balairung UI, Depok, Senin (14/5).

Ia melanjutkan, program untuk menanggulangi Sungai Citarum, salah satunya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk melakukan upaya yang efektif dalam melakukan normalisasi sungai tersebut.

“Daerah aliran sungai itu juga tanggung jawab dari pemerintah pusat sehingga program harus di sinkronisasi dengan daerah dan pusat,” ujarnya.

Dia menilai, dalam kurun waktu 5 tahun pun memang agak berat untuk menjadikan sungai Citarum seperti sedia kala. Namun, ia tidak bisa mengklaim. Bahkan, Presiden Jokowi dalam 7 tahun atau dalam 5 tahun boleh, apabila cukup secara gencar mengeluarkan dana yang cukup kuat lebih dari Rp3 triliun, bahkan Rp4 sampai Rp 5 triliun.

“Kedua mendidik masyarakat itu sangat penting sehingga 5 tahun agak berat tetapi paling tidak bisa dicapai sampai 50 persen,” paparnya.

Kemudian, terkait Jabar sebagai lumbung padi dan perubahan iklim devisi produksi beras sudah mulai terjadi, menurut kang Ajat, sampai sekarang Jabar swasembada beras produksinya 12 juta ton dan yang dimakan 4 juta ton, jadi untuk ketahanan pangan di Jabar tidak ada masalah.

“Yang jadi masalah turunnya produktivitas karena air, polusi air dan juga karena perubahan lahan tata guna lahan,” kata kang Ajat.

Sedangkan untuk program unggulan di sektor pertanian, sambung kang Ajat, pihaknya harus mencari bibit padi yang bisa panen 3-5 kali panen per tahun. Kemudian, ada insentif untuk petani untuk tetap ada di lahan sehingga lahan pertanian abadi bisa terpelihara.

“Sehingga kalau masalah beras selalu berhubungan dengan masalah tanah petani. Sampai sekaranf regenerasi petani di Jabar itu hampir 60 persen, di atas 50 tahun jadi kenapa, karena kurang insentif untuk jadi petani. Untuk itu kami dari paslon Asyik punya konsep oke yaitu coorporate fund,” pungkasnya. (cky)

You may also read!

Bali Bukan buat Liburan Sib…

BANDUNG – Persib Bandung akan melakoni laga tandang ke markas Bali United pada lanjutan Go-Jek Liga 1, pekan ke-11,

Read More...

Tim Thomas Indonesia Tembus Semifinal

BANGKOK–Tim Thomas Indonesia lolos ke babak semifinal Thomas-Uber Cup 2018 usai menaklukkan rival abadi, Malaysia di fase perempat final.

Read More...

Sebelum Catatan Amal Kita Terima

Oleh: H. Budi Subandriyo (Sekretaris DPD LDII Kota Depok) DEPOK – Ramadan tahun ini, sebagian besar putra-putri- kita tidak

Read More...

Mobile Sliding Menu