Aman Dituntut Hukuman Mati

In Utama
FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS
SIDANG TUNTUTAN: Terdakwa kasus dugaan teror bom Thamrin, Aman Abdurrahman alias Oman Rochman usai menjalani sidang dengan agenda pembacaan tuntutan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat (18/5).

JAKARTA – Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut terdakwa teror bom Thamrin, Aman Abdurrahman alias Oman Rachman alias Abu Sulaiman dengan hukuman mati. Hal tersebut disampaikan Jaksa Anita Dewa Yani pada saat sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, kemarin (18/5).

Saat membacakan tuntutan, jaksa menyebutkan hal-hal yang memberatkan terdakwa. Diketahui, Aman Abdurrahman merupakan residivis terorisme.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Oman Rachman dengan pidana mati,” kata Jaksa Anita. “Terdakwa penggagas JAD yang dianggap kafir dan harus diperangi, melakukan teror amaliyah jihad. Perbuatan terdakwa telah (menimbulkan) banyak korban dan luka berat, perbuatan terdakwa juga mengakibatkan tewasnya anak-anak,” lanjut jaksa.

Bahkan jaksa menganggap tidak ada hal yang meringankan otak teror bom Thamrin tersebut. “Kami menganggap tidak ada hal-hal yang meringankan,” tuturnya.

Dalam perkara ini, Aman didakwa memerintahkan empat orang untuk meledakkan bom di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Aman menyasar tempat tersebut sebagai lokasi teror karena di sana banyak warga negara asing (WNA). Bom tersebut akhirnya diledakkan di gerai Starbucks dan Pos Polisi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada 14 Januari 2016. Aman juga didakwa telah menyampaikan kegiatan ceramah yang mengakibatkan para pengikutnya terprovokasi dan mempunyai pemahaman radikal.

Aman diduga terlibat dan menjadi otak pengeboman di Jalan Thamrin pada Januari 2016 dan pengeboman di Terminal Kampung Melayu pada pertengahan 2017. Sebelumnya, Aman pernah ditangkap pada 21 Maret 2004, setelah terjadi ledakan bom di rumahnya di kawasan Cimanggis, Kota Depok. Ketika itu, dia disebut-sebut sedang berlatih merakit bom.

Pada Februari 2005, Aman divonis hukuman penjara selama 7 tahun. Selesai menjalani hukuman, pada Desember 2010 Aman kembali ditangkap karena terbukti membiayai pelatihan kelompok teroris di Jantho, Aceh Besar dan ditahan di LP Nusakambangan. Aman kemudian divonis 9 tahun penjara, hingga dinyatakan bebas di Hari Kemerdekaan. Namun, Aman tidak langsung bebas, melainkan dipindahkan ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Ia disebut memiliki pandangan bahwa pemerintah Indonesia dan ideologi Pancasila merupakan falsafah kafir. Aman dituntut melanggar Pasal 14 juncto Pasal 6 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Sementara itu, Situs blog www.millahibrohim.wordpress.com milik terdakwa teror bom Thamrin Oman Rachman alias Aman Abdurrahman alias Abu Sulaiman masih bisa diakses di jejering sosial. Website tersebut menjadi landasan jaksa penuntut umum (JPU) menuntut mati tokoh jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) tersebut.

Saat membacakan nota tuntutan, jaksa menyebut Aman memuat artikel tentang ‘Syirik Demokrasi’ dalam laman blog yang menggunakan wordpress itu, Jaksa menganggap perbuatan Aman dapat membuat seseorang melakukan aksi teror. “Pemahaman terdakwa tentang syirik demokrasi telah dimuat di internet dalam blog tersebut dan dapat diakses secara bebas sehingga dapat memengaruhi banyak orang,” kata jaksa Mayasari di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (18/5).

Jaksa menyebut, Aman mengategorikan sistem demokrasi merupakan syirik akbar yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Bahkan, ia menolak mengikuti sistem demokrasi yang ada di Indonesia. “Yang termasuk dalam syirik demokrasi akbar sendiri adalah: menyembah berhala, berdoa kepada selain Allah, berkorban kepada selain Allah, mentaati hukum selain hukum Allah, dan lain-lain. Sehingga wajib bagi setiap muslim untuk berlepas diri dari sistem syirik demokrasi,” ucap jaksa.

Bahkan, menurut jaksa artikel ‘Syirik Demokrasi’ tersebut dibuat dalam buku berseri yang diberi nama ‘Seri Materi Tauhid’. Dalam buku itu mengupas tentang demokrasi yang dianggap tidak layak untuk dipraktikkan. Aman menyebut, sistem demokrasi tidak bertuhankan Allah. “Dalam pembuatan syariah atau aturan kehidupan, atau hukum, atau undang-undang yang berlaku atas manusia akan tetapi hukum yang berlaku adalah hukum yang dibuat oleh manusia, dalam hal ini MPR dan DPR,” papar jaksa.

Selain itu, dalam bukunya Aman menyebut, Tuhan yang diibadahi atau ditaati dalam demokrasi ada banyak karena Tuhan pembuat hukum. “Anggota DPR dan MPR jumlahnya banyak,” tutur jaksa.

Bahkan Aman menganjurkan untuk tidak taat kepada demokrasi karena tidak bertuhankan Allah. “Hukum yang berlaku pada sistem demokrasi adalah bukan hukum buatan Allah (hukum Islam), alias hukum buatan manusia,” lanjut jaksa.

Menurut jaksa, adanya fakta tulisan syirik demokrasi tersebut telah dimuat oleh tokoh JAD tersebut dalam laman blognya. Menurut jaksa, laman blog tersebut dibuat khusus untuk memuat ceramah atau kajian dari Aman Abdurrahman. “Blog tersebut dikelola oleh Abu Musa dan dapat diunduh secara bebas oleh siapa saja di internet. Meskipun telah dilakukan pemblokiran oleh pemerintah karena domain situs berada di luar negeri, jadi masih bisa diakses,” tutur jaksa. (ce1/rdw/gwn/JPC)

You may also read!

Pengalaman Menentukan Hasil

YEKATERINBURG – Prancis berkesempatan menyegel tiket untuk lolos ke babak 16 besar Piala Dunia, Kamis (21/6) malam WIB mendatang.

Read More...

Jadwal Piala Dunia 2018 Malam Ini, Kamis 21 Juni 2018

MOSKOW–Sesuai jadwal Piala Dunia 2018 Rusia hari kedelapan, ada tiga pertandingan yang akan dihelat malam ini, Kamis (21/6/2018) hingga

Read More...

Lain Cerita Jika Salah Tidak Cedera

RUSSIA-Gol tunggal Mohamed Salah dari titik penalti menjadi satu-satunya gol hiburan untuk Mesir saat mereka ditekuk Rusia 1-3, Rabu

Read More...

Mobile Sliding Menu