BBWSCC : Empat Situ Depok Hilang

In Metropolis

DEPOK – Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung dan Cisadane (BBWSCC) mencatat ada 206 situ yang ada di bawah naunganya se- Jabodetabek. Dari jumlah itu ada 20 situ yang kini nasipnya sudah berahli fungsi.

Kepala BBWSCC Jarot Widyako menegaskan, kini pihaknya tengah bekerja untuk mengamankan aset negara yakni, dengan cara mematok situ-situ yang ada di kawasan Jabodetabek.

“Kita baru mulai di 2017. situ-situ ini baru tahapan pengadmitrasian terlebih dahulu dengan cara di patok-patok. Selanjuntya dibuatkan sertifikat situ, kita bekerjasama dengan BPN daerah,” kata Jarot kepada awak media di kawasan Situ Pengasinan, kemarin.

Dari jumlah 206 situ, kata Jarot, di 2017 ada 27 situ yang didata atau dipatok. Kini sudah jadi empat sertifikat atas nama negara, dan sisanya masih dalam proses pembuatan sertifikat.

Sedangkan sambung dia, di 2018 ada 38 situ yang akan di ukur dan dipatok atau tahapan pengadmintrasian. “Kalau sudah selesai nanti ada tahapan lagi. Itu nomor dua. Terpenting kita amankan aset negara,” tuturnya.

Terkait 20 situ yang sudah berahli fungsi jelas Jarot, termasuk yang ada di Depok. Dimana data emapat situ yang berahli fungsi di Depok berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kebanyakan dari 20 situ yang sudah berahli fungsi ke perumahan dan persawahan. “Paling banyak diuruk dijadikan perumahan, yang jelas berubah ahli fungsi,” kata dia.

Situ-situ yang ada di kelola swasta di bawah naungan BBWSCC, diharapkan situ itu diserahkan ke Pemerintah Pusat yakni Kementerian PUPR. Meski begitu, fungsi situ tetap terjaga dan dirawat.

“Kami juga apresiasi bagi para pengiat lingkungan yang menjaga dan memanfaatkan situ sebaik mungkin sebagai resapan air. Artinya mereka menjaga luas  badan situ yang ada,” tegasnya.

Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga menilai, perlu langkah kongret untuk menyelamatkan situ yang berada di Jabodetabek. Salah satunya dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, baik masyarakat, pemerintah maupun pihak swasta secara holistik.

Menurut dia, upaya penyelamatan situ tak cukup hanya melakukan pendataan dan sertifikasi, tetapi langah lebih jauh, yakni pemanfaatan situ tersebut setelah mempunyai sertifikat. Salah satunya, kata dia bisa dengan menggunakan pendekatan wisata berbasis lingkungan di sekitar situ yang melibatkan pihak swasta.

“Seharusnya langsung action, susun apa yang harus dilakukan, kalau sudah punya sertifikat dan tidak diapa-apakan kan percuma juga, ini yang harus dipikirkan,” jelas dia.

Selain itu, kata Nirwono, perlu juga melibatkan masyrakat untuk berperan aktif dalam upaya penyelamatan situ tersebut. Sebab kata dia, jika tidak ada upaya penyelamatan dan keterlibatan masyarakat sendiri, bukan tidak mungkin 183 situ lainnya berpotensi hilang. Nirwono menilai, masyarakat bisa mendampingi pemerintah untuk mewujudkan hal itu.

“Di sinilah peran masyarakat mendampingi pemerintah untuk memastikan pemerintah kira-kira patok mana yang akan ditetapkan. di situlah terjadi sosialisasi, ada negosiasi,” pungkasnya.(irw)

You may also read!

Pemagaran Aset Pemkot Depok Ditolak Pedagang

DEPOK – Rencana Pemerintah Kota Depok memasang pagar sekitar Jalan Haji Ohan, sebelah Utara Pasar Cisalak sepertinya tak akan

Read More...

Cijago Tawar Murah Lahan 106 Warga Depok

DEPOK – Pembebasan lahan Seksi III Cinere-Jagorawi (Cijago) menyisakan penolakan. Sedikitnya 106 warga di Kelurahan Tanah Baru, Beji secara

Read More...

Askot PSSI Depok Dilantik

DEPOK – Meiyadi Rakasiwi resmi dilantik sebagai Ketua Asosiasi Kota (Askot) PSSI Kota Depok, di Aula Teratai Lantai 1

Read More...

Mobile Sliding Menu