Rumah Cimanggis Difokuskan Jadi Cagar Budaya

In Metropolis

DEPOK-Rumah Cimanggis di kawasan lahan Radio Republik Indonesia (RRI) di Kelurahan Cisalak, Sukmajaya sepertinya tak akan dirubuhkan. Pasalnya, bangunan warisan Belanda tersebut diajukan menjadi cagar budaya Depok.

“Rumah Cimanggis target utama yang akan dicagarbudayakan,” kata Ketua Umum Depok Herittage Community, Ratu Farah Diba, kepada Radar Depok, kemarin.

Menurut dia, Kota Depok banyak tempat yang memiliki nilai sejarah seperti Rumah Pondok Cina, dan beberapa bangunan yang berada di Kelurahan Depok, Jalan Pemuda.

Namun, pihaknya akan memprioritaskan Rumah Cimanggis yang peninggalan Gubernur Jenderal VOC Petrus Albertus van der Parra. “Akan segera direkomendasikan sebagai cagarbudaya kepada Pemkot Depok,” ucap dia.

Lalu setelah dilakukan rekomendasi dan ditetapkan cagarbudaya akan dilakukan kajian revitalisasi dan direnovasi bangunannya. “Tapi kalau dibangun kami bingung siapa yang akan mendanainya ?,” kata dia bertanya.

Alasan Farah mengusulkan Rumah Cimanggis, yang didirikan tahun 1771 hingga 1775 itu jadi cagar budaya, karena memiliki struktur bangunan yang artistik dan lahan yang cukup luas.

“Punya nilai histori peninggalan masa lalu dan lahannya luas, orang ke situ bisa parkir, kalau secara bangunan itu sekitar 1.000 meter persegi, tapi kalau lahannya kan berapa hektar itu,” kata Farah.

Tak hanya itu, Rumah Cimanggis ini juga akan dijadikan museum. Jadi, kalau sudah  memiliki museum sejarah, Depok memiliki identitas diri yang menjabarkan asal mula adanya Depok.

Hal itu lebih baik ketimbang Rumah Cimanggis, yang telah berusia 243 tahun, itu dirobohkan untuk kemudian dibangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

“Museum itu kan menunjukan peradaban kita, di situlah kita mengenal seperti apa sih peradaban Depok dulu, di situlah bisa digambarkan,” tuturnya.

Sementara, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata (Kadisporyata) Depok, Wijayanto mengatakan, memang para sejarahwan observasi tempat sejarah di Depok. Mereka datang mendata, nanti hasilnya diusulkan ke Kementerian Kebudayaan. “Jadi eksentensi para sejarahwan,” kata Wijayanto.

Terlebih lagi terkait pembangunan UIII di dalam rapat Kementerian Agama, Pemkot Depok meminta ada kawasan untuk ruang terbuka hijau, dan bangunan itu tak dirobohkan atau dirubuhkan. “Kedepan ada pemugaran tapi tak menghilangkan bentuk aslinya,” beber pria yang disapa Wijay ini.(irw)

You may also read!

Polresta, Kejari, Mandek… Kejari Menunggu Pengembalian Berkas Korupsi

DEPOK – Sepertinya Polresta Depok bisa leluasa melengkapi berkas perkara korupsi Jalan Nangka, Kecamatan Tapos. Kemarin, Kejaksaan Negeri (Kejari)

Read More...

Gara-gara Naavagreen Nyamuk Saja Jatuh, Grand Opening Hari Ini

DEPOK – Kebutuhan perawatan kulit wajah dan tubuh, sudah menjadi perhatian penting bagi perempuan maupun laki-laki. Apalagi di zaman

Read More...

Soal Limbah Situ Rawa Kalong, Pemkot Depok Tunggu Hasil BBWSCC

DEPOK – Tercemarnya Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug,  Cimanggis sudah tak terbendung. Saat ini, Pemkot Depok tengah menunggu

Read More...

Mobile Sliding Menu