Memahami Makna Anak dalam Al-Qur’an

In Utama
FOTO: Zaimul Haq, M.Ag
Anggota JQH NU Depok

Setiap keluarga baru yang dibangun oleh pasangan suami dan istri pasti mengharapkan tujuan yang sama, yakni terlahirnya keturunan anak yang shalih dan shalihah. Dengan karakter tersebut. diharapkan kelak si anak akan mampu menjelma sebagai sosok yang jadi kebanggaan orang tua. Namun dalam realitanya, justru sebagian keluarga tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan dalam diri si anak. Ini bisa jadi karena lemahnya ilmu agama yang dimiliki oleh orang tua; kesibukan aktifitas di luar sehingga tidak sempat mengajarkan agama kepada anak; orientasi duniawai yang hanya menjadikan kesuksesan anak dengan ukuran materi, dan juga faktor-faktor lain.

Oleh karena itu di dalam Al-Qur’an, Allah swt. mengingatkan kepada kita sebagai umat Islam, terlebih kepada setiap keluarga yang telah dikaruniai anak agar selalu bersikap hati-hati serta bertanggung-jawab dalam mengemban amanah Tuhan tersebut.

Untuk menyikapi hal tersebut, setidaknya Al-Qur’an mengklasifikasikan makna anak sebagai berikut:

Perhiasan

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).(QS. Al-Imrân ayat 14)

Dari penggalan tafsir ayat di atas, al-Qur’an menyebutkan anak-anak lelaki, tidak anak-anak wanita, karena keadaan masyarakat ketika itu masih sangat mendambakan anak-anak lelaki dan tidak menyambut baik kehadiran anak-anak perempuan. Masyarakat Arab Jahiliah ketika itu memandang rendah kedudukan wanita dan menganggap mereka hanya pembawa aib. Pembelaan wanita hanya tangis dan pengabdiannya adalah mencuri, yakni mencuri harta suami untuk diberikan kepada ibu bapaknya. Itulah sebabnya sehingga anak-anak perempuan tidak disebut dalam rangkaian redaksi ayat ini.

Takut Miskin

dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka,(QS. Al-An’âm ayat 151)

Allah swt menegaskan larangan kepada manusia untuk membunuh anak-anak mereka karena takut ditimpa kemiskinan dan mengakibatkan mereka menduga bahwa bila anaknya lahir, mereka akan memikul beban tambahan. Pada surah di atas, konteks yang diangkat adalah kemiskinan yang sedang dialami oleh ayah dan kekhwatirannya akan semakin terpuruk dalam kesulitan hidup akibat lahirnya anak. Karena itu, Allah swt segera memberi jaminan kepada sang ayah dengan menyatakan bahwa, Kami akan memberi rezeki kepada kamu, baru kemudian dilanjutkan dengan jaminan ketersediaan rezeki untuk anak yang dilahirkan.

Kelengahan

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.(QS. Al-Munâfiqûn ayat 9)

Didahulukannya kata melengahkan untuk menekankan keharusan meninggalkan kelengahan dalam segala bentuknya dan secara khusus disebut harta dan anak-anak. Didahulukannya penyebutan harta karena inilah salah satu yang sangat besar perannya dalam melengahkan seseorang. Anak-anak pun melengahkan jika cinta kepada mereka melebihi batas kewajaran.

Musuh

Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taghâbun ayat 14).

At-Tarmidzi meriwayatkan bahwa, menurut Ibn ‘Abbas ayat ini turun berkaitan dengan kasus sekian banyak penduduk Makkah yang ingin berhijrah  tetapi dihalangi oleh istri dan anak-anak mereka. Kemudian, setelah pada akhirnya berhijrah, mereke menemukan rekan-rekan mereka yang telah terlebih dahulu berhijrah, telah memiliki pengetahun yang memadai tentang Islam. Ketika itu mereka menyesal da bermaksud menjatuhi hukuman kepada istri dan anak-anak mereka yang menjadi penyebab ketertinggalan itu.

Oleh karenanya al-Qur’an mengajarkan kepada kita selaku orang tua untuk tetap waspada, walaupun itu terhadap anak kandung sendiri, agar di kemudian hari si anak tidak lantas menjadi penyebab kegagalan kita dalam menjalani hidup di dunia.

Fitnah

Sesunguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.(Qs. At-Taghâbun ayat 15).

Ibn ‘Asyur berpendapat pada ayat 15 ini, yakni tidak lagi menyebut pasangan sebagai ujian, tetapi menyebut harta dan anak. Di sini anak yang terpilih mewakili pasangan karena ujian melalui anak-anak lebih besar dari pada ujian melalui pasangan, karena anak-anak lebih berani menuntut dan lebih kuat merayu dari pada pasangan.

Kata ‘fitnah’ dipahami oleh Ibn ‘Asyur dalam arti “keguncangan hati serta kebingungannya akibat adanya situasi yang tidak sejalan dengan siapa yang menghadapi situasi itu”. Karena itu, ulama ini menambahkan makna sebab (penyebab)  sebelum kata fitnah, yakni harta dana anak-anak, dapat mengguncangkan hati seseorang.

Dengan penjelasan di atas, semoga kita lebih cermat lagi dalam memperlakukan dan memposisikan anak, sehingga kelak di akhirat kita bisa berkumpul di syurga bersama kelurga kita masing-masing…Aamiin. (*)

You may also read!

Suami di Depok Cekik Istri Hingga Tewas

DEPOK – Yerimia terbilang sadis terhadap istrinya Risma Sitinjak. Pria berusia 28 tahun itu mencekik Risma hingga tewas, di

Read More...

Luas Tanah Pasar Kemirimuka Depok SK Gubernur dan SHGB Beda

DEPOK – Ada fakta baru yang disajikan dalam pembacaan replik di sidang gugatan Derden Verzet, di Pengadilan Negeri (PN)

Read More...

Hewan Kurban Sehat Diberi Tanda Pin

DEPOK – Jelang Hari Raya Idul Adha, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Depok memeriksa hewan kurban di

Read More...

Mobile Sliding Menu