Jarang Digunakan Terancam Punah

In Utama
DICKY/RADARDEPOK
BERGESER: Tokoh Masyarakat Kelurahan Sawangan Baru, Jamhurrobi saat memperlihatkan sejumlah bahasa Depok.

Bahasa tidak hanya sekedar menjadi alat untuk komunikasi, tetapi bahasa juga bisa menjadi ciri khas dari suatu daerah. Kota Depok yang berbatasan dengan DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat, tentu banyak menerima asupan bahasa.

 

DKI Jakarta dengan bahasa Betawi, dan Jawa Barat dengan bahasa Sunda. Nyatanya, Kota Depok pun mempunyai bahasa sendiri, yang disebut bahasa Depok, campuran antara Bahasa Betawi, Sunda, Jawa, Melayu dan Arab. Lalu Bahasa Depok ini sudah berjalan puluhan tahun.

Namun, seiring berjalannya waktu, bahasa Depok mulai tidak terdengar lagi. Karena saat ini sulit sekali menemukan warga khususnya remaja yang menggunakan bahasa Depok.

Salah satu tokoh masyarakat Kelurahan Sawangan Baru, Jamhurrobi menilai, minimnya orang yang menggunakan bahasa Depok penyebabnya adalah derasnya arus warga luar Depok yang tinggal di Kota Depok.

“Sekarang banyak warga asli Kota Depok bercampur dengan warga dari daerah lain. Ini salah satu penyebabnya kenapa bahasa Depok tidak lagi dipakai,” kata Jamhurrobi kepada Radar Depok.

Dulu, lanjut Jamhurrobi, di Depok khususnya warga Sawangan selalu menggunakan bahasa Depok dalam berkomunikasi. “Sekarang sudah sedikit Bahasa Depok yang dipergunakan, dan terancam punah,” ujar Jamhurrobi.

Pria yang juga pengurus Kumpulan Orang Orang Depok (KOOD) mengungkapkan, terbentuknya Bahasa Depok atau Betawi Depok tidak terlepas dari peran masa penjajahan. Dahulu pada masa perang banyak beberapa kerajaan pernah singgah di Kota Depok, salah satunya kerajaan Pajajaran. Tidak hanya itu, pedagang dari daerah Melayu turut menyumbangkan terbentuknya bahasa Betawi Depok.

Dengan berbagai faktor tersebut, sambung Jamhurrobi secara tidak langsung mempengaruhi komunikasi masyarakat, sehingga terbentuk Bahasa Depok. Ada beberapa Bahasa Depok yang terbentuk dan dipakai masyarakat hingga sekarang. Diantaranya, tengari bolong yang miliki arti siang hari, madang berarti makan, dan mindo alias makan tambahan yang biasa dilakukan pada malam hari. “Sedangkan pengaruh Melayu menjadi faktor pendorong dialek bahasa Betawi Depok,” terang Jamhurrobi.

Bergesernya nilai bahasa Depok, karena ada beberapa faktor, salah satunya faktor pendidikan. Jamhurrobi mengatakan, bahasa Depok merupakan bahasa legaliter yang dialeknya terbuka dan cenderung kasar, sehingga banyak orang menilai bahwa menggunakan bahasa Depok dianggap kurang berpendidikan.

Setelah masyarakat mengenyam pendidikan, bahasa tersebut tidak lagi digunakan, bahkan cenderung ditinggalkan. Ada anak Kota Depok yang berumur 15 tahun, tidak mengetahui bahasa Depok, sedangkan yang masih menggunakan bahasa Depok yaitu orang zaman dulu atau usia di atas 40 tahun dan asli Depok.

Jamhurrobi menuturkan, untuk menjaga dan melestarikan bahasa Betawi Depok, KOOD pernah membuat dan merumuskan sejumlah bahasa Depok yang masih digunakan masyarakat. Selain itu, untuk menjaga bahasa Depok dari ancamanan kepunahan, Pemkot Depok melalui dinas terkait perlu melakukan perumusan dan pembukuan bahasa Depok. Dinas terkait dapat merumuskan bahasa Depok mulai dari suku kata, kata per kata, kalimat, hingga dialek bahasa. “Dengan menginventarisir, pemkot dapat mencegah kepunahan bahasa Betawi Depok,” ucap Jamhurrobi.

Terpisah, anggota DPRD Kota Depok dapil Sawangan, Bojongsari, dan Cipayung, Mad Arif mengatakan, dahulu KOOD pernah berusaha melestarikan bahasa Depok. Dia mengingat, ada sekitar 2.000 kata bahasa Depok yang berhasil ditulis. Namun, karena kurangnya dukungan pemerintah, sehingga mimpi untuk membuat kamus bahasa Depok tidak terealisasi.

“Untuk mencegah kepunahan masyarakat Kota Depok perlu menggunakan bahasa Depok, atau setidaknya ada buku yang mencatatnya, sehingga bisa dipelajari,” ujar pria yang juga bergabung dalam KOOD.

Mad Arif menjelaskan, ada beberapa makna kata namun berbeda dalam tulisan dan dialek sebagai ciri khas Bahasa Depok. Dia mencontohkan arti kata Pukul yang berubah menjadi bahasa Depok diantaranya, jotos, tampol dan demuk. Mad Arif mengaku, pernah mengajukan kepada Pemkot Depok untuk melestarikan ciri khas Depok, seperti bahasa Depok, pakaian Depok, dan hal lainnya. “Sangat miris sekali di tengah majunya Kota Depok, namun ciri khas Depok semakin punah,” ucap Mad Arif.

Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi V dapil Depok-Bekasi, Mahfudz Abdurrahman menuturkan, kelestarian ciri khas Depok seperti bahasa Depok perlu dijaga. Apalagi, ciri khas tersebut merupakan wujud terbentuknya dan sejarah Kota Depok yang tidak boleh hilang.

Mahfudz berharap, DPRD dan Pemkot Depok dapat bersinergi dalam menjaga dan melestarikan bahasa Depok dan budaya Depok. Dengan kelestarian tersebut, masyarakat di luar Kota Depok akan mengetahui seseorang dari Kota Depok saat dia menggunakan bahasa dan budaya Kota Depok. (dic)

You may also read!

Pedagang Siaga, PN Depok Keukeuh Eksekusi

DEPOK – Ribuan pedagang Pasar Kemirimuka untuk sementara bisa lega sebentar. Kemarin, kendati ada penundaan eksekusi, pedagang tetap siaga.

Read More...

Walikota Depok Resmikan Koperasi Hiswana Migas

DEPOK – Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Kota Depok, mendirikan koperasi bagi anggota dan masyarakat, kemarin.

Read More...

Lupa Bayar Iuran JKN? Pakai Autodebit

DEPOK – Bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional–Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), khususnya kategori Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU). Jangan khawatir

Read More...

Mobile Sliding Menu