UIII Harus Jatahkan 25 Hektar RTH

In Metropolis
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK SAVANA : Padang rumput yang akan dijadikan lokasi pembangunan kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Kelurahan Cisalak, Sukmajaya.

DEPOK–Pemerintah Pusat memastikan pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) di Kota Depok, terlaksana tahun ini. Namun, dari luasan 142,5 hektar di tanah milik RRI, UIII mesti menyediakan 25 hektar ruang terbuka hijau (RTH).

Koordinator bidang Humas dan Komunikasi Publik Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Depok, M. Yunus mengatakan, dari total lahan yang dimiliki pengelola UIII, dapat menyediakan lahan minimal seluas 25 hektar. Dan nantinya itu diperuntukkan sebagai ruang terbuka publik, serta bisa diakses secara penuh oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Letak lahan yang dimaksud, melingkupi area situs sejarah Rumah Cimanggis, sekaligus menjadikan rumah tersebut sebagai area milik masyarakat yang bisa digunakan pula sebagai museum/kantor pengelola,” kata Yunus kepada Harian Radar Depok, Senin (22/1).

Ruang publik yang harus disediakan oleh pihak UIII, lanjut Yunus, dapat dijadikan sebagai kawasan pendidikan luar ruang, misalnya camping ground, taman keanekaragaman hayati, dan kebun pengamatan.

“Sekaligus ajang masyarakat untuk berinteraksi, berdialog, bercengkerama, berolahraga, atau sebagai lahan ekspresi dan eksplorasi kanak-kanak untuk tumbuh dan berkembang, serta sebagai simbol keberlanjutan kota,” bebernya.

Yunus mengatakan, ruang publik tersebut nantinya tetap merupakan bagian dari wilayah hijau kampus UIII, namun terbuka untuk dimasuki masyarakat luas. “Meskipun harus dibatasi dengan sekat yang memisahkan kegiatan publik dengan kegiatan kampus UIII,” katanya.

Perspektif ini muncul berdasarkan pemahaman para aktifis lingkungan yang tergabung dalam FKH, tentang perlunya institusi resmi yang mewujudkan lahan-lahan hijau untuk kepentingan publik.

Aktifis FKH, Didit mengatakan, jika dibandingkan penguasaan lahan oleh institusi yang melakukan kapitalisasi ruang untuk kepentingan bisnis semata, lebih baik digunakan untuk kepentingan bersama.

“Jadi masyarakat tetap dapat bisa menikmati, jangan dikuasai oleh konglomerat mengingat itu lahan pemerintah dan sesuai UUD 45 masyarakat memiliki hak menikmati hasil kekayaan alam,” katanya. (ade)

You may also read!

Cipayung Dapat 9 Wakil

DEPOK– Sebanyak sembilan mata lomba digulirkan dalam Pentas PAI tigkat SD di Kecamatan Cipayung. Total ada 28 SD negeri

Read More...

Terapkan Hafal 3 Juz, Bahasa Arab-Inggris

DEPOK– Mencetak peserta didik yang bertakwa, mandiri, dan berwawasan Iptek, SMP Islam Terpadu (SMPIT) Al Hikmah di Kelurahan Cipayung

Read More...

LLP Cinere Resmi Bergulir

DEPOK– Lomba-lomba Pendidikan (LLP) tingkat Kecamatan Cinere, resmi bergulir kemarin. Perhelatan lomba yang digabung menjadi satu ini diikuti puluhan

Read More...

Mobile Sliding Menu