UIII Butuh Rp3,9 Triliun, Rumah Cimanggis Dijamin Tak Terusik

In Utama
IST TAK TERURUS : Tampak bangunan Rumah Cimanggis yang tak terurus dan termakan oleh usia.

DEPOK – Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas Kabinet Kerja membahas pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), yang akan dibangun di kawasan RRI Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Rapat berlangsung di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (18/1).

Dalam rapat yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil hingga Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, presiden mengatakan keinginannya agar UIII segera dibangun.

Mengawali rapat tersebut, presiden yang kerap disapa Jokowi itu mengatakan sudah menerima laporan tentang progres terkait pembangunan UIII yang Perpresnya sudah diteken setahun lalu. Dia pun mengingatkan pentingnya mendirikan kampus tersebut.

“UIII dibentuk bukan hanya untuk menjawab kebutuhan domestik, tetapi menjawab kebutuhan masyarakat internasional. Untuk memperkokoh kepemimpinan Indonesia di dunia internasional, terutama umat Islam internasional,” ucap Jokowi.

Dia juga menyinggung kembali pembicaraannya dengan pemimpin negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) saat pertemuan di Jakarta, tahun lalu. Antara lain Sekjen OKI Mahmud Abbas menyampaikan agar generasi muda Indonesia sebaiknya belajar ekonomi perdagangan dan perminyakan ke Timur Tengah. Sebaliknya, pelajar dari Timur Tengah juga bisa menimba ilmu di Indonesia.

“Beliau menyampaikan itu. Tapi sebaliknya, generasi muda Timur Tengah yang ingin belajar ke Indonesia itu sebaiknya belajar mengenai Islam. Menurut beliau-beliau Islam di Indonesia ini adalah dalam praktik keseharian Islam yang betul,” jelasnya.

Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi M Nasir usai rapat tersebut mengatakan pembangunan UIII berada di bawah koordinasi Kemeterian Agama. Mengenai persiapan infrastrukturnya disiapkan oleh Kementerian PUPR. “Kami di Kemenristek Dikti hanya membantu akademiknya. Perizinan, program studi (prodi) apa yang diajukan oleh Kemenag nanti kami evaluasi. Jika oke, setuju, maka langsung dibuka prodinya,” jelas Nasir.

Karena usulan dari Kemenag belum ada, dan pembangunannya juga belum dimulai, Nasir belum bisa bicara banyak. Dia hanya menyampaikan bahwa Presiden di rapat tersebut meminta persoalan lahannya segera diselesaikan. “Instruksi Presiden segera diselesaikan lahan itu untuk segera digunakan,” tandasnya.

Pembangunan kampus UIII nyatanya belum berjalan mulus. Lantaran di lokasi pembangunan terdapat sebuah rumah bersejarah (kini disebut rumah Cimanggis) yang bakal dibongkar, imbas dari pembangunan UIII. Pantauan Radar Depok, rumah tersebut tampak tidak terurus karena dipenuhi tanaman rambat serta rumput liar. Namun, jendela-jendela kacanya yang besar menunjukkan rumah itu bukan milik orang biasa.

Kontroversi muncul pascaucapan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menilai tak ada yang perlu dibanggakan dengan rumah tersebut, karena rumah itu bekas hunian istri kedua gubernur jenderal VOC yang korup, Van Der Parra.

Ketua Depok Heritage Community, Ratu Farah Diba, menyayangkan pernyataan ketua Yayasan UIII tersebut. Ia menyebutkan wakil presiden buta sejarah. “Mengenai istri kedua, dimaksudkan bukan poligami, karena van der parra menikah setelah dua tahun istri pertamanya meninggal,” kata Farah saat di konfirmasi Radar Depok.

Terkait perilaku korup, lanjut Farah, pada saat itu hampir voc juga memiliki perilaku korup, bukan hanya Van der Parra. “Jangan melihat track record pemilik masa lalunya, tapi nilai keindahan seni budaya masa kolonial yang sudah semakin langka dan cerita dibaliknya,” lanjut Farah.

Farah justru membandingkan seluruh gedung peninggalan masa kolonial, jika Wakil Presiden menyatakan bangunan Rumah Cimanggis dikaitkan dengan sejarah pemiliknya yang korup. “Jika dikaitkan dengan sejarah masa lalu maka dipastikan akan banyak sekali gedung masa kolonial yang harus dihancurkan termasuk istana negara, istana bogor, museum sejarah Jakarta, dan masih banyak lagi,” tegas Farah.

Terkait akan dilakukannya peletakan batu pertama UIII, Farah menyatakan penolakannya jika dilakukan di lokasi bangunan rumah Cimanggis. “Tapi jika peletakan batu pertamanya di luar area misal di depan gedung biru ruang pemancar atau di dekat prasasti dekat pintu gerbang depan silakan saja,” katanya.

Farah mengatakan, akan melakukan aksi penolakan jika pemerintah pusat tetap melakukan peletakan batu pertama di lokasi tersebut. Pasalnya, bangunan tersebut sudah didaftarkan ke Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud RI. “Jika pemerintah tetap keukeuh membangun disana, itu akan menyalahi UU,” tegas dia.

Farah berharap, bangunan rumah Cimanggis tetap dipertahankan dan direvitalisasi seperti aslinya. Dan dapat dijadikan sebagai museum Kota Depok. “Jika kampus tetap berdiri disina, permudah akses masyarakat untuk berkunjung ke sana,” pungkasnya.

Terpisah, proyek UIII di Depok ternyata bakal berjalan selama lima tahun. Proyek ini butuh dana Rp3,9 triliun. Pemerintah menjamin proyek ini tak akan mengusik bangunan peninggalan VOC, Rumah Cimanggis. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memberi penjelasan seusai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo  “Semua anggarannya Rp3,9 triliun,” kata Basuki.

Proyek dimulai tahun ini dan rencananya selesai pada 2022. Duit sebesar itu tak semuanya ditanggung negara. Untuk tahun ini ada duit Rp 600 miliar diambilkan dari Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN) dari APBN. Sebesar Rp 600 miliar itu baru diusulkan ke Kementerian Keuangan. Adapun kekurangannya hingga bisa mencapai Rp 3,9 triliun akan menggunakan hibah yang diurus Wakil Presiden Jusuf Kalla. “Hibah dari banyak negara, itu urusannya Pak Wapres,” kara Basuki.

Nantinya, gedung bakal dibangun dengan tema futuristik bernapaskan islami. Dia mengilustrasikan ada masjid di depan, perpustakaan, dan lahan pekuburan yang menjadi taman religi. “Arahannya Pak Wapres, kita harus mendesain yang futuristik,” kata Basuki.

Arsiteknya bernama Andy Siswanto dan seorang lagi yang merupakan cucu pendiri ormas Islam tertua, Muhammadiyah. “Pak Wapres saja sampai kaget, itu cucunya Pak Ahmad Dahlan,” kata Basuki.

Terkait kekhawatiran proyek UIII bakal mengancam keberadaan peninggalan VOC pada abad ke-18, yakni Rumah Cimanggis. Namun Basuki menjamin proyek ini tak akan mengusik Rumah Cimanggis. “Menurut Pak Wapres, itu (Rumah Cimanggis) di luar. Ini jauh dari tempat pembangunan. Jadi sudah dibahas itu,” kata Basuki.

Masih dilokasi yang sama, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memilih melihat perkembangan sebelum memastikan soal terlindungnya Rumah Cimanggis dari proyek.

“Kita akan lihat dulu seluruhnya. Saya mengatakan tidak masuk, khawatir masuk. Saya mengatakan masuk, khawatir tidak masuk,” kata Aher, sapaan Ahmad Heryawan, seusai rapat soal UIII di Istana Kepresidenan.

Menurut Wapres JK pada Senin (15/1), pembangunan UIII tidak mengambil wilayah rumah peninggalan Belanda tersebut. Lahan yang akan digunakan hanya berkisar 15 persen dari seluruh jumlah lahan. “Tidak termasuk wilayah itu, artinya tidak termasuk yang dibangun, artinya yang mau dibangun. OKI kita membangun cuma 15 persen. Lahannya yang dipakai cuma 15 persen, paling tinggi 20 persen,” terang JK saat itu. (ade/fat/jpnn)

You may also read!

Polresta, Kejari, Mandek… Kejari Menunggu Pengembalian Berkas Korupsi

DEPOK – Sepertinya Polresta Depok bisa leluasa melengkapi berkas perkara korupsi Jalan Nangka, Kecamatan Tapos. Kemarin, Kejaksaan Negeri (Kejari)

Read More...

Gara-gara Naavagreen Nyamuk Saja Jatuh, Grand Opening Hari Ini

DEPOK – Kebutuhan perawatan kulit wajah dan tubuh, sudah menjadi perhatian penting bagi perempuan maupun laki-laki. Apalagi di zaman

Read More...

Soal Limbah Situ Rawa Kalong, Pemkot Depok Tunggu Hasil BBWSCC

DEPOK – Tercemarnya Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug,  Cimanggis sudah tak terbendung. Saat ini, Pemkot Depok tengah menunggu

Read More...

Mobile Sliding Menu