Sejarawan Geram Ucapan Jubir Wapres

In Metropolis
IST
RUMAH CIMANGGIS : Kondisi Rumah Cimanggis saat ini, beberapa atapnya hilang, temboknya ditumbuhi tanaman merambat dan sekitarnya berdiri ilalang tinggi.

DEPOK–Setelah ucapan Wakil Presiden (Wapres) RI, Jusuf Kalla, yang menyayat hati. Kini giliran juru bicaranya Husain Abdullah yang berkomentar Rumah Cimanggis sebelum direncanakan untuk dijadikan UIII, kurang mendapatkan perhatian dari sejarawan. Sontak pernyataan tersebut membuat para sejarahwan di Kota Depok geram.

Ketua Depok Herittage Community, Ratu Farah Diba membantah, dia dan kawan-kawan baru-baru ini memperhatikan Rumah Cimanggis. Dalam petisi yang berjudul “Selamatkan Situs Sejarah Rumah Cimanggis Depok Abad 18” yang umumkan oleh Komunitas Sejarah Depok pada Desember 2017 dan siaran pers Jalan dan Gowes Bareng #SelamatkanRumahCimanggis pada Januari 2018, sudah jelas.

“Kalau pak Husain Abdullah lihat itu, tentu akan tahu bahwa perhatian para sejarawan di Depok, sudah ada sejak 2011,” kata Farah kepada Harian Radar Depok, Sabtu (20/1).

Saat itu, lanjut Farah, pihaknya mendaftarkan rumah Cimanggis ke kantor BPCB (Badan Pelestari Cagar Budaya) Serang dan mendapatkan No. 007.02.24.04.11. “Jadi tujuh tahun lebih sebelum heboh UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia),” lanjut Farah.

Setelah pendaftaran ke BPCB Serang tersebut, pihaknya melanjutkan dengan mengiventarisasi situs sejarah di Depok yang dilakukan pada 2012. Padahal, lanjut Farah, para sejarawan dan masyarakat Depok seharusnya tidak perlu repot melakukan upaya-upaya memperhatikan, menginventarisasi, mengumpulkan informasi kesejarahan dan mendaftarkan situs sejarah jika pemerintah menjalankan amanah UU Cagar Budaya No 10 tahun 2011.

“Di UU itu disebutkan bahwa untuk melestarikan cagar budaya, negara bertanggung jawab dalam pengaturan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya,” terang Farah.

Anggota Komunitas Sejarah Depok, Heri Syaefudin turut mengomentari pernyataan Husain Abdullah tersebut. Ia mengatakan, seharusnya pernyataan juru bicara wapres itu ditujukan kepada Pemerintah.

“Harusnya kami yang bertanya mengapa tiba-tiba saja dan tanpa pernah ada sosialisasi dengan warga Depok, tahu-tahu akan dibangun pusat peradaban Islam UIII,” katanya.

Padahal, lanjut Heri, dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Depok kawasan RRI diperuntukkan Ruang Terbuka Hijau (RTH). “Yang santer terdengar justru pada tahun 2015 kawasan itu oleh Walikota Nur Mahmudi Ismail disosialisasikan sebagai arboretum atau hutan kota yang bisa menjadi paru-paru dunia,” lanjut Ketua Forum Komunitas Hijau tersebut.

Heri menambahkan, ini diperlukan guna memenuhi 30 persen kewajiban RTH di Kota Depok. Sekaligus bisa difungsikan sebagai kawasan resapan yang menahan run off jika musim hujan tiba.

Sejarawan, JJ Rizal mengatakan, konsentrasi para sejarahwan di Kota Depok lebih pada soal bagaimana agar situs sejarah itu selamat. Bukan pada upaya menolak keberadaan UIII.

“Kami tidak perlu membenturkan apalagi mempertentangkan atau malah menghilangkan antara dua hal yang sebenarnya sama fungsinya, yaitu medium pendidikan. Seperti juga universitas, bagi kami “situs sejarah” juga medium pendidikan,” kata JJ.

Apalagi, lanjut JJ, yang akan didirikan adalah Universitas Islam Internasional yang disebut akan dijadikan pusat peradaban Islam. “Bukankah Islam dan sejarah seperti gigi dengan gusi, dekat sekali. Peradaban Islam dengan dunia internasional pun lekat betul,” lanjutnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Wakil Presiden Jusuf Kalla Husain Abdullah mempertanyakan perhatian sejarawan terhadap Rumah Cimanggis bertepatan dengan pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Padahal, menurut dia, Rumah Cimanggis sebelumnya kurang mendapatkan perhatian dari para sejarawan.

Belakangan, setelah akan dihancurkan untuk pembangunan UIII mendadak banyak sejarawan yang meminta pemerintah mempertahankannya.

“Menjadi pertanyaan, kenapa justru di saat kawasan sekitarnya akan dibangun pusat peradaban Islam, barulah diributkan,” kata Husain. (ade)

You may also read!

Polresta, Kejari, Mandek… Kejari Menunggu Pengembalian Berkas Korupsi

DEPOK – Sepertinya Polresta Depok bisa leluasa melengkapi berkas perkara korupsi Jalan Nangka, Kecamatan Tapos. Kemarin, Kejaksaan Negeri (Kejari)

Read More...

Gara-gara Naavagreen Nyamuk Saja Jatuh, Grand Opening Hari Ini

DEPOK – Kebutuhan perawatan kulit wajah dan tubuh, sudah menjadi perhatian penting bagi perempuan maupun laki-laki. Apalagi di zaman

Read More...

Soal Limbah Situ Rawa Kalong, Pemkot Depok Tunggu Hasil BBWSCC

DEPOK – Tercemarnya Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug,  Cimanggis sudah tak terbendung. Saat ini, Pemkot Depok tengah menunggu

Read More...

Mobile Sliding Menu