Meneguhkan Keteladanan Rasulullah

In Utama

 

Oleh: Ust. Achmad Solechan
(Wakil Ketua PCNU Depok)

Mayoritas masyarakat muslim Indonesia pada umumnya, setiap tahun memperingati perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Memperingati Maulid Nabi berarti memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dimaksudkan sebagai wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad dan bersamaan dijadikan momentum untuk mengingat dan meneladani perjuangan Nabi sekaligus meneguhkan ketaatan dan keteladanan kita kepada baginda Nabi Muhammad SAW.   Peringatan Maulid Nabi diwarnai pembacaan salawat dan berbagai kegiatan sebagai wujud syukur atas anugerah diutusnya Nabi  Muhammad dalam mengemban misi dakwah islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Peringatan Maulid Nabi sudah menjadi tradisi keagamaan dan warisan budaya dari para pendahulu. Sehingga perayaannya pun tidak hanya di surau, musholla, masjid yang berada di kampung dan Desa-Desa namun juga menjadi bagian dari kegiatan keagamaan resmi di instansi pemerintah maupun swasta. Permulaan peringatan Maulid Nabi dilakukan Raja Irbil al-Mudhoffar yang terkenal alim, bertaqwa dan pemberani pada abad ke 7 Hijriah.

Menanggapi perayaan ini para ulama memandang baik diantaranya Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani, Al-Hafidz As-Sakhowi, Imam Jalaludin As-Suyuthi, Syeikh Taqiudin Ibn Taimiyah dan ulama-ulama besar yang lain. Supaya tidak terjebak pada pro kontra peringatan Maulid Nabi, mari kita tuturkan substansi peringatan maulid.

Substansi acara Maulid Nabi

Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan nikmat yang paling agung dan merupakan rahmat bagi alam semesta. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Anbiya 107 “Dan Tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam”.  Karenanya pada bulan Rabiu’ul Awal, bulan dimana Nabi Muhammad dilahirkan ummat muslim menunjukkan ungkapan kegembiraannya. Allah SWT berfirman dalam QS Yunus 58 “Katakanlah: dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, maka berbahagialah kalian semua”.

Wujud kegembiraan dan cinta kasih kepada Nabi Muhammad SAW tersebut tergambar dalam peringatan acara Maulid Nabi. Pertama; dalam peringatan Maulid Nabi berisi amalan kebajikan dan tebaran kasih sayang. Acara diisi degan pembacaan Al Qur’an, salawat kepada Nabi Muhammad dan pembacaan sejarah nabi dan syair-syair pujian karya penyair seperti al-Barzanji, ad-Diba’I, Simthud Dhuror dan sebagainya. Pembacaan ini dimaksudkan untuk megingat dan membaca kisah-kisah keteladanan kehidupan nabi dalam berbagai bidang.

Pembacaan syair-syair kecintaan dan kerinduan kepada Nabi dilantunkan dalam bentuk nada dan ekspresi yang dalam sehingga mampu membuat jama’ah larut dalam untaian cintanya kepada Nabi. Bahwa ada sebagian yang menyampaikan bahwa bacaan-bacaan dalam barzanji tersebut melebih-lebihkan dan terlalu mengkultuskan Nabi seperti syair Anta Syamsun Anta Badrun, Anta Nurun Faoqo Nur dst (Engkau laksana matahari, Engkau laksana bulan, Engkau Cahaya di atas Cahaya) tidak memahami konteks.

Kitab Barzanji adalah karya sastra tinggi yang harus dipahami juga dalam kacamata sastra. Tidaklah mungkin ekspresi kecintaan seorang ahli bahasa dan sastra dipahami dalam bahasa keseharian. Acara Maulid Nabi dipenuhi dengan pembacaan solawat kepada Nabi, sebagaiman firman Allah QS Al-Ahzab 56 “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersolawat kepada nabi; wahai orang-orang yang beriman, bersolawatlah kepadanya dan ucapkan salam kepadanya”. Forum Maulid adalah majlis solawat dan ungkapan cinta dan rindu pada sang Nabi.

Amalan kebaikan yang wujud dalam peringatan Maulid Nabi adalah silaturahim sesama umat Nabi Muhammad SAW. Sesama muslim berkumpul dalam majlis kebaikan, saling sapa dan bertukar kabar untuk saling menguatkan ukhuwah islamiyah (sesama umat muslim), wathiniyah (sesama anak bangsa) dan basyariyah (sesama anak manusia). Kedua; peringatan Maulid Nabi merupakan usaha untuk menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri teladan yang nyata. Sebagaimana QS Al Ahzab 21 “Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Kehadiran Nabi yang merupakan rahmat tak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak. Karenanya semakin sering dan intens dalam membaca sejarah nabi, keluhuran budi dan akhlak nabi semakin dekat dengan kita umatnya. Nabi Muhammadah sejatinya suri teladan. Mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad adalah wujud kecintaan kita pada Nabi sekaligus kecintaan kita kepada Allah SWT. Dalam QS Ali Imron 31 “ Katakanlah (wahai Muhammad), Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.

Dalam QS At-Taubah 128 dijelaskan “Benar-benar telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan sendiri, yang terasa berat baginya penderitaan kalian; penuh perhatian terhadap kalian; dan terhadap orang-orang mukmin sangat pengasih lagi penyayang”.

Momentum peringatan Maulid Nabi adalah momentum refleksi diri atas diri kita untuk mencontoh dan meneladani perilaku agung Nabi Muhammad SAW. Kacamata kemanusaiaan Nabi membuat semua orang dekat dan tidak berjarak berhubungan dengan Nabi. Semua kalangan berasa nyaman bersama Nabi. Allahumma sholli wa sallim ala sayidina Muhammad. (Wallahu a’lam)

You may also read!

Suami di Depok Cekik Istri Hingga Tewas

DEPOK – Yerimia terbilang sadis terhadap istrinya Risma Sitinjak. Pria berusia 28 tahun itu mencekik Risma hingga tewas, di

Read More...

Luas Tanah Pasar Kemirimuka Depok SK Gubernur dan SHGB Beda

DEPOK – Ada fakta baru yang disajikan dalam pembacaan replik di sidang gugatan Derden Verzet, di Pengadilan Negeri (PN)

Read More...

Hewan Kurban Sehat Diberi Tanda Pin

DEPOK – Jelang Hari Raya Idul Adha, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Depok memeriksa hewan kurban di

Read More...

Mobile Sliding Menu