Gegara Medsos, Sulit Komunikasi dengan Orang Baru

In Utama

 

Fenomena Komunikasi Zaman Now

Dewasa ini, penggunaan media sosial (medsos) di masyarakat sudah bukan menjadi hal yang asing lagi. Perkembangannya begitu masif. Siapa yang tidak menggunakan medsos, dari orang tua hingga anak muda, baik lelaki maupun perempuan, semuanya menggunakan. Kalau kebablasan, bisa menghadirkan kerugian. Berikut Radar Depok coba menghadirkan ceritanya.

 

Prilaku masyarakat terhadap medsos saat ini sangat beragam. Ada yang menggunakannya hanya untuk berkomunikasi, dan kepentingan lain seperti bermain game, berjejaring sosial. Dari sebagian prilaku tersebut, tak banyak masyarakat yang mau lepas dari medsos.

Fitriana Indah Permatasari (20) salah satunya. Ia mengatakan, selama satu hari ia tak pernah lepas dari gadgetnya. Karena kebiasaan menjadi alasan utamanya, dan tak pernah henti berkomunikasi dengan temannya alasan lainnya.

“Sekarang kan komunikasi sudah lebih mudah, kadang gunain (gadget) buat nanyain kabar temen atau kebutuhan lainnya, misalnya minta kirimin film atau foto,” kata warga Tanah Baru, Beji tersebut.

Mahasiswi Ilmu Komunikasi semester 3 tersebut mengatakan, gadget layaknya sebuah kebutuhan. Ia mengaku bingung apabila gadgetnya rusak atau lepas dari tangannya.

“Bingung pasti (tanpa gadget), apalagi kalau lagi diluar,” lanjut Indah.

Indah mengaku, agak sulit bersosialisasi dengan orang lain semenjak dirinya mengenal gadget. Ia mengatakan, memiliki keterbatasan untuk bergaul dengan teman baru. “Agak canggung kalau ngobrol sama orang baru, jadi kalau ketemu orang baru lebih banyak liat gadget,” lanjut Indah.

Saat ditanya soal spesifikasi gadget, Indah mengatakan tak ada spesifikasi khusus, hanya harga yang cocok dengan kantong, Random Access Memory (RAM), serta modelnya yang pas digenggam.

“Nggak ada spesifikasi lain sih, intinya tiga hal itu aja, kalo kamera dan sebagainya nomor dua,” katanya.

Jika Indah tidak memiliki spesifikasi khusus terhadap gadgetnya, Iswan Setiawan pria yang juga gemar menggunakan gadget malah memiliki spesifikasi sendiri terhadap gadget yang akan dimilikinya. Ini untuk menunjang aktfitas media sosialnya.

“Yang pasti terupdate, terutama sih prosesornya yang di liat, terus RAM, karena saya penggemar game,” kata mahasiswa smester 3 di salah satu kampus swasta di Jakarta tersebut.

Iswan mengatakan, selain bermain game, ia sangat gemar menggunakan media sosial Whatsapp di gadgetnya. “Biasanya digunain buat chatingan dan buat seru-seruan dengan update status,” kata pria yang karib disapa Inang tersebut.

Inang mengatakan, semenjak hadirnya gadget, ia mulai meninggalkan metode komunikasi jarak jauh konvensional seperti Short Message Service (SMS) dan telepon. “Jarang banget, palingan cuman buat kontekan sama orang tua, beli pulsa Rp5000 bisa cukup satu bulan,” katanya.

Terhadap perilaku sosial, Inang mengatakan, tidak ada perubahan dalam dirinya. Ia tetap bisa melakukan komunikasi dengan temannya secara langsung. “tapi nggak bisa juga lepas dari gadget, karena sudah menjadi kebutuhan dewasa ini,” pungkasnya.

Psikolog Universitas Pancasila, Maharani Ardi Putri menjelaskan, berbicara tentang anak-anak, pasti akan melibatkan orang dewasa di sekitarnya, apakah itu orangtua, guru atau pengasuh. Mereka harus punya knowledge yang sama dulu.

“Itu kita yang mengatur sebagai orang dewasa, karena menyerahkan kepada anak-anak tidak mungkin, mereka belum bisa mengatur,” kata Putri.

Jadi, sambung Putri, ketika anak sampai adict terhadap medsos, jadi ada sumbangan dari lingkungannya juga. Memang anak sekarang sangat familiar dengan penggunaan medsos, tapi seiring dengan itu, mereka juga harus diajarkan dengan rules -nya, apa yang boleh dan apa yang tidak dalam menggunakan medsos.

“Jika memang anaknya belum cukup umur, sebaiknya ditahan lah, tidak usah dikasih, atau mereka mau mencoba, anaknya umurnya tanggung, cari medsos yang bisa kita kontrol juga, jadi jangan mereka terus kita lepas begitu saja, karena mereka belum bisa bikin Judgement,” ujarnya.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Kepala Humas Universitas Indonesia ini melanjutkan, sebenarnya medsos ini bertemu orang secara sosial, hanya berpindah dunianya ke dunia digital, yang perlu diwaspadai adalah ketika anak mengunggah semua kehidupannya di medsos.

“Berbicara mengenai anak, mereka belum siap menerima kritik, nah itu yang berat ketika orang mulai komen apa yang ia posting, ketika orang juga mulai memberikan masukan negatif atau iseng merayu dan lainnya. Anak belum siap menghadapi itu,” paparnya.

Orang dewasa harus memberikan kewaspadaan juga, jangan sampai anak terlalu membuka semua kehidupan pribadinya dengan mengunggah ke dunia maya atau medsos. “Jangan sampai mereka pergi kemana dikit di upload, pergi kemana dikit di update. Ini justru mereka akan mudah dijadikan sasaran kejahatan,” bebernya.

Jadi, perlu kerjasama dengan orang dewasa dan anak untuk mengatur medsos ini. Jika dibilang anti sosial tidak, karena sebenarnya mereka memiliki lingkungan sosial di dunia maya itu. Hanya caranya saja yang berbeda.

“Mungkin yang lebih tepatnya membuat mereka tidak aware dengan lingkungan sekitar. Karena mereka sudah terpaku ketika menggunakan medsos, jadi mereka tidak awas dengan lingkungan sekitar,” kata Putri.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, kata Putri, lebih tepatnya orang tua atau orang dewasa mengajarkan kepada anak, ketimbang dari sekedar melarang dan mengatur, lebih baik kita memberikan penjelasannya kenapa dibatasi penggunaan medsos.

“Kita juga memberikan penjelasan, positif dan negatif dari medsos tersebut. Kita juga bilang, kamu siap tidak ketika ada orang komentar seperti ini dan lain sebagainya,” papar Putri.

Selain itu, orang dewasa juga harus mendorong anak untuk bercerita kepada kita terkait hal yang ditemui di medsos. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan penggunaan medsos si anak tersebut.

“Ajari anak tetap sopan ketika mengunggah fotonya atau bagaimana, agar mereka tetap paham ternyata di medsos ada rules – nya, tidak sekedar pakai,” ujar Putri.

Sama halnya ketika bepergian ke mal, sekolah dan lainnya, di medsos sendiri akan bertemu dengan segala tipe orang, baik jahat atau tidak. Sehingga menanamkan sikap waspada itu penting.

“Bukan mengajarkan anak untuk berbohong, tapi lebih kepada tidak memberikan informasi terlalu lengkap mengenai dirinya, seperti nama hanya nama panggilan saja, tidak memberitahu alamat rumah, jadi anak tahu kenapa tidak boleh, karena anak harus waspada, waspada itu apa, waspada itu berhati-hati kepada orang lain karena di medsos kamu tidak bertemu dengan orangnya, kamu tidak tahu orang itu baik atau tidak, itu yang musti dijelaskan ke anak,” terang Putri.

Ketika ingin memberikan data tersebut, lanjut Putri, harus izin dengan orangtuanya. Kemudian, ketika melihat anak yang dikehidupan nyatanya cenderung diam, tetapi saat menggunakan medsos ia bisa tertawa dan nyaman, ia menilai hal ini yang menjadi pekerjaan rumah bersama adalah menciptakan lingkungan yang kondusif untuk itu.

“Kita melarang mereka ke warnet, terus gantinya apa, ketika dilarang dan tidak ada ganti kegiatannya kan mereka akan bosan. Mereka akan mencari-cari yang lain atau bahkan ke warnet lagi. Melarang itu harus bertanggung jawab menciptakan kegiatan,” pungkas Putri. (ade/cky)

You may also read!

Suami di Depok Cekik Istri Hingga Tewas

DEPOK – Yerimia terbilang sadis terhadap istrinya Risma Sitinjak. Pria berusia 28 tahun itu mencekik Risma hingga tewas, di

Read More...

Luas Tanah Pasar Kemirimuka Depok SK Gubernur dan SHGB Beda

DEPOK – Ada fakta baru yang disajikan dalam pembacaan replik di sidang gugatan Derden Verzet, di Pengadilan Negeri (PN)

Read More...

Hewan Kurban Sehat Diberi Tanda Pin

DEPOK – Jelang Hari Raya Idul Adha, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Depok memeriksa hewan kurban di

Read More...

Mobile Sliding Menu