Belasan LGBT Meninggal

In Utama
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
MENUNGGU : Sejumlah calon pasien saat antre di ruang tunggu RSUD Kota Depok, Jalan Raya Muchtar, Sawangan.

DEPOK-Ini menjadi ancaman bagi Kota Depok yang menyandang Visi Misi : Aman, Nyaman dan Religius. Perlu diketahui bersama, selama 2017 di Kota Sejuta Maulid ini, didapati belasan kaum Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) meninggal akibat mengidap penyakit AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Noerzamanti Lies Karnawati menjelaskan, sampai saat ini penderita AIDS yang terdata di Dinas Kesehatan Kota Depok ada 1.032 jiwa. Namun, yang ditangani di RSUD Kota Depok ada 306 jiwa, dan selebihnya tersebar kemungkinan ke rumah sakit lain.

Khusus penyakit ini berbeda, tidak semua penderita mau terbuka. Biasanya, melalui LSM yang memang fokus terhadap penderita AIDS. Namun, sebagian kecil penderita AIDS didapati di beberapa tes yang diadakan keliling oleh Dinas Kesehatan Kota Depok.

Sebagian besar penderita merupakan akibat penyalahgunaan narkoba dan 32 persen merupakan akibat hubungan seksual yaitu LGBT.  Angka kematian akibat AIDS di 2016 dan sebelumnya dibawah angka 10 jiwa dalam setahun. Akan tetapi pada 2017 angkanya meningkat menjadi lebih dari 10 jiwa yang meninggal. “Diatas 10 jiwa. Tidak semua penderita mau terbuka akan penyakit AIDS ini, sehingga memang yang datang ke RSUD saja yang kami tangani,” jelasnya.

Kurun waktu empat tahun dari 2013 hingga 2017 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok, mencatat ada 326 pasein penderita Aids yang berobat di rumah sakit daerah tersebut.

Dari jumlah itu, sebanyak pasien 42 mengidap hetroseksual antara lain, hubungan sesama jenis dan berhubungan banyak pasangan.

Kepala seksi Pelayanan Medis RSUD Kota Depok, Dayu Satriani mengatakan, penderita Aids menidap dari hetroseksual ini tercatat selam kurun waktu empat tahun. Dari jumlah itu bukan hanya warga Depok saja melainkan ada warga luar Depok yang berobat di RSUD Depok.

“Penderita Aids yang berobat di RSUD Depok ada dua warga Depok yang meningal dunia. Satu pasein berobat sejak 2015 dan satu pasien berobat di RSUD kondisinya sudah parah, mereka meningal di 2017,” beber Dayu, kepada Radar Depok di gedung RSUD Depok Kecamatan Sawangan, kemarin.

Dayu mengatakan, para pasein yang berobat di RSUD mereka dari berbagai daerah bukan hanya dari Depok.

Mereka yang berobat dari luar kota ini, karena ingin berobat bukan di kota tempat tinggal, alasanya malu dan sebagainya. “Warga Depok juga begitu, kadang konsultasi di RSUD, berobat di luar kota,” kata dia.

Terlebih lagi, untuk mengetahui menderita Aids atau tidak, Dinkes Depok lanjut dia, telah memberikan fasilitas di  Puskesmas Cipayung,  Cimanggis, dan  Puskesmas Sukmajaya. “Namanya Poli Voluntary Counseling and Testing (VCT). Ruanganya dibuat khusus,” kata dia.

Ia menambahkan, penderita Aids ini sebenarnya tidak bisa sembuh. Namun, penderita diwajibkan untuk rajin berobat Aids di rumah sakit yang biasa didatangi. Meski begitu, penyakit Aids ini adalah suatu penyakit yang menyerang daya katahanan tubuh penderita. Sehingga rentan terkena penyakit. “Obatnya anti virus saja, ini bukan untuk menyebutkan penyakit. Anti virus ini bisa penderita Aids hidup normal,” kata dia.(ina/irw)

You may also read!

21 Ban Bus Deborah Digarong

DEPOK – Po Deborah kehilangan 21 ban bus baru di Jalan KSU, Sabtu (18/8) sekira pukul 04:07 WIB. Namun

Read More...

Miras Rp252 Juta Diratakan di Balaikota Depok

DEPOK – Pemabuk Kota Depok harus puasa alkohol sejak Mei-Agustus. Keladinya kemarin, sebanyak 10.108 botol miras dan 40 kantong

Read More...

Pemkot Depok Serahkan Rp400 Juta Untuk Lombok

DEPOK – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, menyalurkan bantuan kepada korban bencana gempa bumi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat

Read More...

Mobile Sliding Menu