Acep Tusuk Gunting ke Leher Arsitek

In Metropolis
ADE/RADAR DEPOK BUNUH : Acep Mulyadi (20) saat memeragakan detik-detik pembunuhan Feri Firman Hadi (50) saat pra rekonstruksi, Jumat (12/1)

DEPOK–Suasana komplek Perumahan Poin Mas seketika ramai, saat lima mobil jenis SUV bertuliskan Jatanras Polda Metro Jaya beriringan masuk kedalam komplek, Jumat (12/1) sekitar pukul 13.00 WIB.

Iring-iringan mobil tersebut berhenti tepat di rumah bercat dominan hitam, dengan kondisi kumuh dan dihiasi garis kuning milik Polisi. Didalam rumah tertulis alamat rumah Blok A2 Nomor 5 RT01/11, Kelurahan Rangkapanjaya, Pancoranmas.

Selang beberapa menit, polisi bersenjata lengkap menggandeng seorang pria berkemeja oranye bertuliskan Tahanan Polda Metro Jaya. Pria tersebut diketahui bernama Acep Mulyadi (20), tersangka pembunuhan Feri Firman Hadi (50) seorang arsitek pemilik rumah tersebut.

Acep dengan pengawalan ketat aparat kepolisian, melakukan gerakan demi gerakan yang dilakukannya mulai dari mendatangi rumah tersebut, membunuh pemilik rumah, hingga melarikan diri.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Stevanus Tamuntuan mengatakan, maksud kedatangan aparat kepolisian gabungan dari Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Polresta Depok dan Polsek Pancoranmas, guna melakukan pra rekonstruksi pembunuhan yang dilakukan Acep Mulyadi terhadap Feri. “Kegiatan ini untuk mensinkronkan keterangan tersangka di BAP dengan kondisi di TKP,” kata Stevanus di TKP, kepada Harian Radar Depok, Jumat (12/1).

Stevanus menambahkan, kegiatan pra rekon tersebut juga guna mengumpulkan bukti-bukti lain sebagai kelengkapan untuk memenuhi alat bukti yang tertera dalam BAP. “Dalam pra rekon ini kami melaksanakan 57 adegan, yang diantaranya 49 adegan di dalam rumah, dan 8 adegan di luar rumah,” lanjutnya.

Dari pra rekonstruksi tersebut terlihat bagaiamana Acep melakukan upaya pembunuhan, hingga ia melarikan diri dan curhat kepada keluarganya. Terutama kepada ibunya kalau dirinya telah bertengkar dengan temannya.

“Kami lakukan semuanya disini, mulai dari kedatangan pelaku, sampai dengan pelaku keluar. Dan kita juga menganalogikan TKP sebagai lokasi yang pernah ia kunjungi setelah melakukan perbuatan. Yaitu situ bogor dan daerah bojonggede,” beber Stevanus.

Terkait motif, dikatakan oleh Stevanus, kejadiannya berawal dari pelaku yang hendak meminjam uang kepada korban. Namun mendapatkan respon yang tidak menyenangkan dari korban, sehingga merasa sakit hati dan menusuk korban.

“Pelaku hendak meminjam uang kepada korban untuk membayar kontrakan, namun korban malah mengeluarkan kata yang tidak mengenakkan kepada pelaku sehingga langsung menusuk korban,” lanjutnya.

Stevanus mengatakan, besaran uang yang hendak dipinjam pelaku Rp700 ribu. Hal tersebut dilakukan oleh pelaku karena keduanya mempunyai kedekatan pertemanan yang akrab. Korban diketahui sering dipijit oleh pelaku dan menerima bayaran setelahnya.

“Saat pelaku mijit, ia mengutarakan hal tersebut, dan korban bilang agar teruskan pijitnya baru pikirin uang,” kata Stevanus.

Stevanus menduga akibat pernyataan korban tersebut pelaku geram. Tak hanya itu, korban juga menyuruh orang tuanya tinggal bersama korban. “Tak pikir panjang, setelah mendapatkan ucapan yang menyinggung soal orang tuanya, pelaku menusukkan gunting ke leher korban hingga sekarat dan meninggalkan korban,” bebernya.

Korban tidak langsung tewas melainkan sekarat, namun, karena korban tinggal sebatang kara dalam rumah tersebut, korban meninggal karena tidak mendapatkan pertolongan. “Pelaku kenal korban itu dari kakaknya, pelaku juga sering mengunjungi korban untuk meminta pijit,” lanjutnya.

Stevanus menambahkan, tidak ada motif perencanaan dalam pembunuhan tersebut. Korban yang sakit hati spontan melakukan hal tersebut. “Kami pastikan pembunuhan dilakukan tanpa rencana, dan pelaku tidak memiliki kelainan seksual, Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 338 KUHP dengan ancaman maksimal 20 tahun,” jelas dia.

Diketahui, Feri Firman Hadi (50) ditemukan tewas membusuk dirumahnya sendiri pada, Rabu (3/1) sore hari sekitar pukul  17.00 WIB. Korban ditemukan membusuk diatas tempat tidurnya dan terdapat banyak bercak darah di sprei tempat tidurnya.

Ketua RW11 Rangkapanjaya, Wahyudi menjelaskan, mengenal korban sudah  beberapa tahun lalu dan korban terkenal suka ngobrol. “Setahun lalu kami sering ngobrol kalau ketemu. Kami mengukur dia baik karena rajin ke masjid. Begitu pisah dari istrinya 5 tahun lalu dia jarang ke luar rumah,” jelas dia.

Korban beserta keluarga pindah ke Perumahan Poin Mas pada 2006. Warganya mengenal korban sebagai arsitek dan setiap hari tamunya banyak. “Korban juga dikenal suka klenik. Rumah korban juga sering dipakai pengajian kumpulnya kadang siang kadang juga abis maghrib, nggak pernah sampai dari pukul 24.00. Istri korban juga almarhum juga dua bulan lalu,” jelas dia.

Dia juga mengaku salah satu orang pertama yang menemukan jenazah korban. Awalnya kata dia, adik korban dari Semarang menelepon kakaknya tapi nggak pernah diangkat. Karena beberapa hari mencoba menelepon dan tidak diangkat membuat adiknya pergi ke Depok dan benar pintu gerbangnya terkunci tapi pintu rumahnya terbuka itu tanggal 3 Januari. “Jenazah sepertinya dari tanggal 10 Januari. Karena sudah tidak berbentuk,” ungkap dia. (ade)

You may also read!

Polresta, Kejari, Mandek… Kejari Menunggu Pengembalian Berkas Korupsi

DEPOK – Sepertinya Polresta Depok bisa leluasa melengkapi berkas perkara korupsi Jalan Nangka, Kecamatan Tapos. Kemarin, Kejaksaan Negeri (Kejari)

Read More...

Gara-gara Naavagreen Nyamuk Saja Jatuh, Grand Opening Hari Ini

DEPOK – Kebutuhan perawatan kulit wajah dan tubuh, sudah menjadi perhatian penting bagi perempuan maupun laki-laki. Apalagi di zaman

Read More...

Soal Limbah Situ Rawa Kalong, Pemkot Depok Tunggu Hasil BBWSCC

DEPOK – Tercemarnya Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug,  Cimanggis sudah tak terbendung. Saat ini, Pemkot Depok tengah menunggu

Read More...

Mobile Sliding Menu