Hoax Timbulkan Kebingungan Luas

In Politika
FOTO: Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila, Siswono Yudo Husodo

JAKARTA – Dinamika politik saat ini jauh berbeda dengan situasi 20 tahun lalu. Menurut Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Universitas Pancasila, Siswono Yudo Husodo, menjadi pemimpin negara, ormas, Parpol dan semua jenis kepemimpinan tidak mudah di era baru ini. Sebab, hoax menimbulkan Kebingungan luas.

Menurut mantan Menteri Perumahan Rakyat ini, dengan mudahnya arus informasi, terutama melalui sosial media (Sosmed) yang campur aduk antara anjuran, pembinaan, nasehat yang baik dengan hoax, agitasi dan fitnah sering menimbulkan Kebingungan yang luas.

“Dari 250 juta penduduk Indonesia, saat ini ada sekitar 130 juta orang pengguna internet, 106 juta orang yang aktif di Medsos dan 370 juta nomor seluler yang aktif,” kata Siswono.

Ia mengungkapkan, Herman Goering, ahli propaganda Nazi mengatakan, bila berita bohong terus menerus disiarkan, orang akan menerimanya sebagai kebenaran. Waktu Goering mengatakan itu, belum ada Sosmed seperti saat ini.

Banyak isi percakapan di Medsos yang dilakukan masyarakat Indonesia berpola benturan antara arus informasi menyebarkan kebencian yang mengaduk emosi dengan arus kasih sayang, optimisme dan kearifan untuk menerima perbedaan.

Di sosmed, orang baik bisa terkesan buruk oleh informasi yang menyesatkan, demikian juga sebaliknya. Kebaikan seseorang bisa tersosialisasi dengan luas, begitu juga keburukannya. Sangat berbeda dengan suasana 20-30 tahun lalu. Kata dia, Sosmed telah menjadi alat mobilisasi massa yang cepet mengubah keyakinan orang.

“Kita menyaksikan bagaimana Arab Spring yang menumbangkan banyak rezim di timur tengah, seperti Khaddafi di Libya dan Hosni Mubarak di Mesir, serta kekacauan di Syria dan Irak didorong oleh mobilisasi gerakan rakyat melalui Sosmed,” paparnya.

Ia melanjutkan, dalam arena politik yang semakin liar oleh perkembangan Sosmed ini, akan lebih baik bagi Indonesia jika masyarakatnya memiliki kematangan untuk membedakan mana berita bohong (hoax), fitnah atau hasutan dan mana berita atau informasi yang memang diperlukan.

Masalahnya menjadi rumit, karena tingkat pendidikan masyarakat masih relatif rendah. Dari jumlah angkatan kerja 127,67 juta orang, 47,37 persen lulusan SD dan SD ke bawah.

Sebab, masyarakat dengan pendidikan rendah akan sulit menyaring berita bohong dan hasutan.

“Menyebarnya ujaran kebencian antar golongan dapat membawa kehancuran sebuah negara atau bangsa, seperti yang terjadi di Yaman, Afghanistan, Syria, Irak, Libya dan Mesir. Sangat lah tepat keputusan MUI dan Munas NU yang mengharamkan ujaran kebencian,” ucap Siswono. (cky)

You may also read!

Disdukcapil Kota Depok Bakar 30 Ribu Blangko e-KTP Rusak

DEPOK – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Depok memusnahkan 30 ribu blangko Elektronik KTP di Balaikota Depok,

Read More...

Antisipasi Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok, Disdagin Depok Operasi Pasar

DEPOK – Mengantisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Depok bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI)

Read More...

NU Depok Serukan Perkuat Kebinekaan

DEPOK – Plt Ketua PC NU Kota Depok, Ahmad Solechan menyerukan ajakan untuk memperkuat kebinnekaan dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Read More...

Mobile Sliding Menu