Keukeuh Tolak SSA

In Metropolis, Utama

DEPOK-Ribuan warga dan pedagang di Kelurahan Depok, Depok Jaya Kecamatan Pancoranmas sudah habis kesabaran. Kemarin malam, perwakilan ketua lingkungan, pedagang, tokoh masyarakat dan tokoh agama kembali berkumpul di Jalan Nanas RW3 Depok Jaya, membahas Sistem Satu Arah (SSA). Hasilnya, tercetus beberapa poin dalam membantu Pemkot Depok mengurai kemacetan.

Ketua RW14 Kelurahan Depok Jaya, Pancoranmas, Toro Budiarko menuturkan, dalam pertemuan tersebut pada intinya tetap menolak. Penolakn itu mendasar dari berbagai aspek. Apalagi dalam pertemuan ini pihaknya menemukan usulan yang lebih relevan dari dari teman, Pricahyo Examinanto, Alumni Falakutas Trasportasi Universitas Brawijaya (Unibraw).

Usulan itu, kata Toro berisi tujuh masukan untuk mengurai kemacetan. Terutama di laur SSA. Dari tujuh masukan tersebut semuanya sangat masuk akal dan sama sekali merugikan pihak manapun. “Iya semalem kami rapat lagi,” tegas kepada Harian Radar Depok.

Siangnya (kemarin), sambung Toro diundang  audensi dengan Hendrik Tangke Allo (HTA) selaku Ketua DPRD Depok. Tapi sayang yang bersangkutan tidak hadir. Wakil rakyat di Gedung DPRD Depok tidak kunjung datang selama tiga jam menunggu. Dengan harapan, aspirasi warga yang terkena dampak SSA bisa terealisasi agar SSA tidak dipermanenkan atau dibatalkan. “Kami  menunggu sampai jam 12 siang, Pak Hendrik  belum hadir, maka kami putuskan untuk pulang,” bebernya.

Pertemuan itu kata dia, sudah direncanakan. Malah HTA, kata Toro warga yang diundang  untuk datang ke DPRD Depok untuk mengeluarkan aspirasi soal  dampak SSA yang selama ini dirasakan warga.

“Kami perwakilan  murni dari unsur warga yang hadir. Dari unsur warga ada ketua RW 20 dan 14 Kelurahan  Depok,  RW 14 Depok Jaya saya sendiri, tokoh masyarakat, unsur pedagang, dan beberapa ketua RT di Kelurahan Depok, Pancoranmas,” kata dia.

Toro sebagai perwakilan warga yang terkena dampak SSA, telah sepakat agar aksi ini murni dari warga dan tidak terafiliasi dengan partai politik atau kepentingan lain. Terpenting aksi warga adalah untuk menghentikan program SSA, karena merugikan warga dan para pedagang.

“Kami menolak SSA, kalau tidak  buat apa kami (warga) aksi turun ke jalan? Walaupun secara prosedural dengan audiensi ke Kadishub Depok, menyampaikan rekomendasi berikut memberikan solusi, serta aksi damai pasang spanduk sudah kami jalankan, tapi ternyata Pak Walikota Depok, belum bergeming mendengar keluhan kami,” ungkap lulusan IISIP Angkatan 1995 itu.

Terpisah, Ketua DPRD Kota Depok Hendrik Tangke Allo mengaku, belum bisa beraudensi dengan perwakilan warga yang terkena dampak SSA, sebab ada keperluan tugas.

Tapi soal SSA, ia menilai bahwa  penerapan ujicoba  SSA di ruas Jalan Dewi Sartika, Nusantara dan Arief Rahman Hakim Pemerintah Depok harus  memperhitungkan imbas ke warga dari penerapan SSA. Ini masalah baru. Memang ujicoba SSA yang dilakukan awalnya diharapkan bisa mengurai kemacetan di ruas jalan tersebut.  

Ini baru ujicoba, harapan kami pun bisa jadi solusi mengurai kemacetan. Tapi ternyata setelah berjalan selama satu bulan masih tetap macet,tutur Hendrik.

Sementara, Yani, siswa SMAN 1 kelas XI ini mengatakan, semenjak adanya SSA dirinya berangkat lebih pagi dari biasanya. Karena takut jika terlambat datang ke sekolah. “Iya berangkat lebih pagi, biasanya ada angkot yang langsung jalan, tapi ini harus muter,” kata siswi yang tinggal di Jalan Pitara tersebut.

Pemberlakuan SSA, memang banyak menuai persoalan khususya bagi masyarakat yang merasakan imbasnya, karena waktu tempuh yang lebih lama dan kondisi macet yang semakin luar biasa.

Salah seorang pedangang, Darmadi mengatakan, semenjak diberlakukannya SSA, dia mengaku omset yang didapatkannya menurun. Karena menurutnya, macet yang sangat luar biasa menjadi salah satu alasan pengendara yang enggan mampir ke tokonya. “Mungkin karena macet, jadi orang males,” katanya.

Pedagang pakaian di pasar lama Dewi Sartika ini mengatakan, tak biasanya macet mengular hingga perempatan sandra. Biasanya paling panjang, macet hanya mencapai tokonya yang tepat berada disebelah pasadena.

“Macetnya semakin parah, bukannya memberikan solusi malah memindahkan macet,” kata pria yang sudah berjualan sejak 1984 tersebut

Selain Darmadi, pedagang lainnya pun turut mengalami penurunan omset. Afoh misalnya, dirinya mengaku tidak mengerti mengapa pemerintah Kota Depok terlalu dini dalam mengambil keputusan. “Sebelum diberlakukan SSA, masih mending pendapatan, tapi sekarang, betul betul terasa, pernah sehari tak dapat penglaris,” katanya.

Pengendara sepeda motor pun turut mengkritisi kebijakan SSA, yang menurutnya bukanlah menjadi solusi melainkan hanya membebankan pengendara maupun warga sekitar yang terkena imbasnya.

Supri warga Kampung Pitara mengatakan, kerap mengantar dan menjemput anaknya di Jalan Nusantara, harus berputar lebih jauh melewati terminal depok maupun jalan sejajar rel dan turut membuang bahan bakar kendaraannya. “Kan boros, bayangkan saja yang biasanya saya bisa menempuh perjalanan hanya 15 menit, ini menjadi setengah jam,” katanya.(irw/ade)

You may also read!

Polresta, Kejari, Mandek… Kejari Menunggu Pengembalian Berkas Korupsi

DEPOK – Sepertinya Polresta Depok bisa leluasa melengkapi berkas perkara korupsi Jalan Nangka, Kecamatan Tapos. Kemarin, Kejaksaan Negeri (Kejari)

Read More...

Gara-gara Naavagreen Nyamuk Saja Jatuh, Grand Opening Hari Ini

DEPOK – Kebutuhan perawatan kulit wajah dan tubuh, sudah menjadi perhatian penting bagi perempuan maupun laki-laki. Apalagi di zaman

Read More...

Soal Limbah Situ Rawa Kalong, Pemkot Depok Tunggu Hasil BBWSCC

DEPOK – Tercemarnya Situ Rawa Kalong di Kelurahan Curug,  Cimanggis sudah tak terbendung. Saat ini, Pemkot Depok tengah menunggu

Read More...

Mobile Sliding Menu