Produk : Indonesia

In Ruang Publik
follow :

(sebuah analisa)

Oleh: Sephy Lavianto,SE,MM*)

Pada suatu waktu kami memuat poster tentang isu terkini di media sosial kami untuk melihat reaksi dari para follower media kami, karena kami melihat mengapa kami melihat di media sosial khususnya facebook yang untuk saat ini di Indonesia yang merupakan negara ke-4 terbesar  dengan total 54 (lima puluh empat) juta pengguna aktif maka media sosial ini bisa dikatakan merepresentasikan rakyat Indonesia dan pola perilaku mereka di sini adalah gambaran real atas apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia.

Tidak heran jumlah traffic dari media sosial ini apabila sekumpulan orang dengan maksud tertentu membuat sebuat website yang target usernya jelas akan sangat mudah mengumpulkan pundi – pundi pendapatannya.

Balik lagi kepada yang kami lakukan dengan mengupdate isu – isu terkini dan memviralkan kami melihat bahwa sejak dilakukan pemilu tahun 2014 yang menyebabkan sebagian rakyat terbelah karena pilihan politiknya mengakibatkan apa yang dilakukan oleh pemerintahan terpilih tidak mendapatkan dukungan padahal jika dilihat dan ditelisik secara umum pembangunan infrastruktur di Indonesia dilaksanakan secara masif dan merata dengan pemerataan harga BBM di seluruh wilayah Indonesia sehingga mengakibatkan harga BBM di Papua sama dengan di Pulau Jawa dan banyak wilayah di Papua yang mulai terbuka dengan dibangunnya trans papua serta banyak pos – pos perbatasan yang diperkuat dan dilayakkan sehingga harga diri bangsa naik dan itu yang terjadi di dalam negeri belum lagi dalam sejarahnya saham freeport mendapat porsi yang besar untuk Indonesia dan secara keseluruhan Indonesia bisa digambarkan sedang bangkit.

Tetapi ada yang menarik dari sisi masyarakatnya yang sampai saat ini masih merasa pemerintahan saat ini tidak layak untuk dibanggakan dengan berbagai alasan yang dicari – cari dan itu semua tergambar di media sosial.

Kami menganalisa dari komentar – komentar yang masuk di media sosial kami dan perbandingan yang mendukung dan menghujat masih terbagi porsi yang sama dengan posisi terakhir pemilu 2014 dan apakah ini menggambarkan bahwa terbelahnya masyarakat ini belum dapat dihilangkan? Dan apakah pemerintah yang sedang menjalankan negara ini sedang dalam posisi kehilangan kepercayaan dari sebagian rakyatnya dan lalu apakah yang sudah dilakukan pemerintahan ini untuk mengembalikan kepercayaan sebagian rakyatnya?

Analisa negara ( Indonesia) sebagai sebuah produk

Jika negara dilihat sebagai produk maka pemerintah diasumsikan sebagai penjualnya dan rakyat diasumsikan sebagai pembelinya dan produk yang bagus ditangan penjual yang tidak menguasai ilmu penjualan akan membuat pembeli tidak mau membeli walaupun produk tersebut sudah diberikan gratis.

Kami menganalisa negara dari sisi tersebut diatas jadi syarat produk bisa dijual oleh penjual adalah selain produk tersebut harus mempunyai nilai lebih tetapi penjual juga harus mengerti karakter pembelinya.

Penjual yang mahir seharusnya membangun KEPERCAYAAN, mempunyai kemampuan MENDENGAR, selalu TRANSPARAN, tidak menjual yang TIDAK DIBUTUHKAN, selalu OPTIMIS, perlihatkan KEYAKINAN, terus FOLLOW UP, beri waktu untuk MEMUTUSKAN, perhatikan yang masih bernada sumbang sampai mereka berkata YES.

Dan inilah yang harus dilakukan oleh para penjual untuk menjual produknya ke para pembeli dan dalam hal ini pemerintah sebagai penjual harus bisa membangun kepercayaan, mempunyai kemampuan mendengar, selalu transparan, memberikan yang dibutuhkan masyarakat, tunjukkan optimisme, berikan keyakinan, terus lakukan perbaikan, lalu lihat reaksi masyarakat sampai akhirnya masyarakat bisa menjadi bagian dari negara ini karena mereka tahu bahwa mereka didengar dan dimiliki oleh negara.

Lalu pertanyaannya adalah apakah penjual harus selalu mengikuti kemauan pembeli? dan apakah bila pembeli yang dihadapi adalah pembeli yang penuh emosi apakah penjual masih bisa menjual? Jawabannya BISA.

Quote untuk mewakili pertanyaan diatas:

“Karena itu bila bisa menyerang, kita harus nampak tidak mampu; Saat menggunakan kekuatan, kita harus tampak tidak aktif; Saat kita dekat, kita harus membuat musuh percaya bahwa kita berada jauh; Bila kita  jauh, kita harus membuatnya percaya kita sudah dekat” – Sun Tzu, the art of war. (*)

*)Dosen, Pengamat Politik, Penulis, Media Social Enthusiast, dan Ketua Forum Komunikasi Peduli Depok.

You may also read!

Eti Hadiri Musrenbang di Jatijajar

follow :DEPOK – Politikus Partai Golkar Eti Susilawati turut andil dalam pembangunan di Kota Depok. Belum lama ini, ia

Read More...

150 Kader Partai Berkarya Depok Ikut Haul Pak Harto

follow :DEPOK – Sebanyak 150 pengurus dan kader DPD Partai Berkarya Kota Depok akan bertolak ke Jawa Tengah, untuk

Read More...

HTA Senang Relawan Hasanah Makin Solid

follow :DEPOK – Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Hendrik Tangke Allo merasa optimis bila pasangan calon Gubernur dan

Read More...

Mobile Sliding Menu