Mengingat yang Bahagia: Aksi Damai Pasca Pemilu

In Ruang Publik

Oleh : Alvian Apriano, S.Si. (Teol.)

“But the process of memorization is specified by the methodical character of the ways of learning aiming at an easy actualization, the privileged form of happy memory.”~ Paul Ricoeur

Di dalam kehidupan berdemokrasi sehari-hari masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang fleksibel dalam berelasi. Fenomena umum yang khas, ialah masyarakat Indonesia berbincang dan akrab di sekeliling gerobak penjual sayur, mendatangi tetangga dan bertukar lauk-pauk hasil masakan hari-hari, bergotong-royong membersihkan lingkungan di hari besar tertentu, mengadakan arisan mingguan, ngeliwet selepas memancing, dan fleksibilitas relasi umum lain yang bersifat menjalin tali silaturahmi. Akan tetapi, relasionalitas ini rentan terganggu, ketika proses pemilihan umum berlangsung, dan proses pendukungan terjadi.

Relasi mendadak menjadi dingin. Yang terjadi, warga di satu lingkungan yang sama tersebut menjadi saling sindir, dan tidak bertegur sapa seperti sedia kala, hanya karena perbedaan arah dukungan terhadap salah satu pasangan calon (paslon). Fatalnya, mereka sampai-sampai bermusuhan. Seketika suasana menjadi kaku, karena tidak terjalin lagi relasi yang baik. Dampak ini menyebabkan hubungan di antara warga dalam sebuah lingkungan tertentu menjadi rusak. Jika kita mencermati bersama teladan para pejuang demokrasi, maka di dalam sebuah pesta demokrasi, konsekuensi logisnya adalah perbedaan pilihan. Demikian halnya, setelah pesta tersebut berakhir, konsekuensi logisnya pun mestinya persatuan. Akan tetapi, semakin hari semakin dilupakan.

Beberapa waktu belakangan ini, fenomena bersangkutan banyak dipotret dari proses pemilihanumum (Gubernur) di DKI Jakarta.Semua mata masyarakat Indonesia mendadak perhatian menuju ke sana, karena—menurut para analis—prosesnya kental dengan saling sindir. Betapa tidak, prosesnya berlangsung dua putaran, dan selama dua putaran tersebut persatuan sedikit kabur. Padahal, secara historis, pemilihan umum (pemilu), baik pemilihanPresiden, Kepala Daerah, Legislatif dan lainnya adalahperwujudan konkrethak demokrasi bagi setiap rakyat Indonesia untuk keberlangsungan pemerintahan di masa yang akan datang. Didalam visualisasi sejarah, ditampilkan monokromtentang perbedaan keberpihakan terhadap satu calon/partai tertentu; tentang kampanye yang merupakan aksi kreatif memberikan dukungan dalam pesta demokrasi; juga tentang potret program-program dari para paslon.

Meski demikian,gagasannya menjadi utopis, manakala pasca memilih dan terpilihnya “pemimpin,”masing-masing warga yang berbeda pilihan dikuasai konflikberkepanjangan yang bermula dari kampanye, hingga setelah pesta demokrasi itu berakhir.Dengan demikian,janji-janji kesejahteraan dari para pemimpin tersebut tertunda,karena didahului dengan konflikdari para pemilihnya. Dari mana kita mengetahui problematika tersebut?

Sebagai masyarakat, kita tidak dapat memungkiri bahwa perkembangan teknologi smartphone membuat kita lebih mudah menyaksikan kampanye secara langsung dimanapun dan kapanpun. Baru-baru ini muncul bentuk kampanye online/livemelalui media sosial (youtube, facebook, instagram, dll) yang diunggah oleh akun media sosial para pendukung. Didalamnnya, kita dapat melihat kreativitas kampanye dari tim sukses pasangan calon (paslon) tertentu, namun tak jarang kita menyaksikan sindiran-sindiran kepada paslon tandingan melalui yel-yelyang digaungkan oleh para pendukung. Ditambah lagi, orasi politik yang sering kali bermuatan saling sindir disampaikan oleh orator dari salah satu paslon. Semua itu demi label yang mentereng bagi masing-masing paslon. Demi label yang mentereng tersebut, mereka tidak menyadari dampak dari itu. Inilah fenomena yang kita dapat saksikan langsung dari smartphone kita. Apa yang muncul setelahnya adalah, situasipermusuhan.Pola perilaku selama kampanye politik terbawa sampai ke dalam kehidupan bermasyarakat sesehari.

Di dalam konteks perayaan pesta demokrasi tersebut, ternyata permusuhan menjadi ancaman terhadap keharmonisan. Pemicunya adalah ujaran atau perilaku selama pesta demokrasi tersebut dilangsungkan. Pola perilakudan ujaran menyimpang di dalam proses kampanye dapat membawa kepada permusuhan yang berkepanjangan. Bahkan, para paslon selalu mengingatkan kepada para pendukungnya untuk tetap menjaga kehidupan harmonis sesudah proses pemilihan umum berlangsung, sekalipun telah menang ataupunkalah dalam prosesnya.Pertanyaan yang muncul ialah apakah setiap individu yang hadir dan berpartisipasitidak menyadari pentingnya keharmonisan dalam kehidupan masyarakat demokrasi?Bagaimana hal ini menjadi mungkin? para paslon dan tim suksesnya menjadi perlu untuk membuka cakrawala berpolitiknya untuk memikirkan pasca pesta perbedaan itu berlangsung. Dengan cara apakah? Ternyata, kemungkinan akan hal tersebut dapat kita capai dengan memulai dari diri kita melalui tinjauan kita terhadap konsep ingatan bahagia.

Seorang filosof sekaligus teolog bernama Paul Ricoeur pernah menyebutkan konsep “ingatan bahagia”. Konsep ini muncul di dalam investigasinya tentang Memory, HIstory, and Forgetting. Di sana, ia mencoba membagikan sedikit filosofi tentang pentingnya perjalanan mengingat sejarah guna mencipta pengampunan. Secara aplikatif, hal tersebut dapat dilalui dengan memfungsikan ingatan bahagia yang terkandung dalam setiap ingatan manusia. Ingatan jenis ini muncul tanpa kemarahan, dan amarah. Kita dapat mengatakan bahwa kemarahan dan amarah merupakan dua emosi negatif dan jitu memantik konflik pun di saat yang bersamaan membuat orang sulit untuk mengingat. Keadaan ini semakin membuat pengampunan menjadi niscaya. Akan tetapi, melalui ingatan bahagia, seseorang akan mengingat masa lalu dan menyortir ingatannya ke arah proyeksi tentang kebahagiaan. Dengan demikian, praktik saling mengampuni potensial terjadi didalamnya.

Kesulitan tersebut berbanding terbalik dengan ingatan bahagia yangdapat terjadi begitu saja, dan karenanya mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengingatnya. Hal ini membuat setiap orang mengingat tanpa mengalami perasaan sedih atasnya, karena masing-masing mengingat yang bahagia. Ricoeur menggagas istilah ini sebagai sebuah stimulus bagi ingatan kita bahwa didalamnya terkandung juga yang bahagia. Ia hanya menyebutkan bahwa ingatan bahagia itu berada dalam kondisi mood bahagia yang tercipta di dalam perasaan kita. Jadi, ingatan kita tidak hanya tentang hal-hal yang bersifat traumatis dan kesedihan, tetapi juga tentang hal-hal yang bahagia. Kita dapat mengatakan bahwa ingatan bahagia itu berisi hal-hal yang menyenangkan, yang pernah kita lalui dalam masa lalu dan dapat membuat kita mudah dan senang ketika mengingatnya. Ingatan bahagia juga mencakup penggunaan ingatan sebagai tempat di mana seseorang dapat berdamai. Pemahaman mendasar dari Ricoeur inilah yang membuat kita sangat ingin mengingat beberapa hal, dan mengingat peristiwa atau keadaan lainnya.

Di dalam konteks saling mengampuni, ingatan jenis ini dapat memberikan dampak yang signifikan. Dengan mengingat kembali tempat menjalin silaturahmi, dan proses-proses yang terjadi didalamnya, masing-masing pendukung dapat kembali memulihkan relasinya yang sempat rusak, dalam proses pemilihan umum. Mengingat yang bahagia adalah langkah awal untuk menyembuhkan luka-luka yang muncul selama pesta demokrasi. Dengan mengingat yang bahagia, setiap orang yang bermusuhan dapat secara jujur merangkul kembali tetangga yang sempat mereka jauhi. Kualitas ingatan ini akan berfungsi apabila setiap pribadi bersedia untuk memanggil kembali ingatan bahagia yang muncul dari relasi yang mereka jalin sebagai sesama di sebuah lingkungan tertentu.

Di tahun menjelang (2018-2019), kita akan menapaki tahun-tahun demokrasi. Akan terjadi dan ditayangkan pelbagai kontestasi politik yang berlangsung.Smartphone kita pun mungkin akan mengambil bagian didalamnya. Sebagai antisipasi permusuhan yang berawal dari saling sindir, mengingat yang bahagia dapat dipertimbangkan para pendukung paslon. Dengan mengingat yang bahagia, permusuhan dapat dikelola. Kita perlu mencermati bahwa pesta demokrasi, ternyata berisiko menimbulkan konflik interpersonal yang tanpa disadari menjauhkan kedamaian dalam kehidupan bersama. Untuk itu, kita perlu berhati-hati agar dalam mengamalkan demokrasi, tetap juga menjaga keharmonisan hidup. Oleh karena itu, antisipasi-antisipasi perlu kita lakukan dalam menyemarakkan pesta demokrasi yang akan dating dengan mengingat yang bahagia. Terutama, kita perlu mengantisipasi permusuhan melalui perilaku dan ujaran kita sebagai pendukung dan pemilih. Dengan demikian, kitalah pencipta damai di tengah-tengah proses demokrasi yang dapat menimbulkan risiko interpersonal.

Mahasiswa Aktif Pasca sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STT) Jakarta;

Anggota Karang Taruna Sub Unit RT 01 RW 03, Beji, Depok.

You may also read!

Suami di Depok Cekik Istri Hingga Tewas

DEPOK – Yerimia terbilang sadis terhadap istrinya Risma Sitinjak. Pria berusia 28 tahun itu mencekik Risma hingga tewas, di

Read More...

Luas Tanah Pasar Kemirimuka Depok SK Gubernur dan SHGB Beda

DEPOK – Ada fakta baru yang disajikan dalam pembacaan replik di sidang gugatan Derden Verzet, di Pengadilan Negeri (PN)

Read More...

Hewan Kurban Sehat Diberi Tanda Pin

DEPOK – Jelang Hari Raya Idul Adha, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Depok memeriksa hewan kurban di

Read More...

Mobile Sliding Menu