Melihat Pilkada dari sisi Calon Terpilih

In Ruang Publik

Oleh:

Sephy Lavianto SE, MM*)

Apa yang mendasari orang untuk menjadi penguasa?

Pertanyaan diatas adalah kerangka berpikir para calon yang akan dijewantahkan oleh tim suksesnya

melalui strategi – strategi yang mereka aplikasikan dalam masa pemilihan calon yang dimulai dari pencitraan pribadi, pembentukan tim inti, pemilihan kendaraan politiknya sampai dana logistik yang harus dikeluarkan, bagi calon semua ini harus terukur dan di tengah jalan ada penumpang – penumpang gelap yang akan membuat blunder visi sampai strategi adalah hal wajar dalam berpolitik.

Jadi apa yang mendasari orang untuk menjadi penguasa? Secara normatif mereka biasanya melihat dari sisi egoismenya yaitu jika daerah ini saya pegang maka daerah ini akan mengalami perubahan serta kejelekan dari penguasa yang ada saat ini bisa saya lakukan perbaikan yang signifikan, tetapi ada juga yang memang ingin menjadi penguasa untuk mengumpulkan pundi–pundi kekayaan yang ujung–ujungnya akan menyebabkannya terjerat dalam kasus korupsi dan lainnya tetapi jika mereka terus bisa berkuasa tanpa ketauan maka akan dibentuklah dinasti kekuasaan apalagi jika rakyatnya dibungkam dan menjadi apatis maka kekuasaan seperti ini yang akan menjadi sangat korup dan sarat dengan kepentingan.

Apakah ada yang seperti itu? Banyak, secara data per 2016 ada 361 kepala daerah yang tersangkut korupsi yang secara umum terjerat karena kasus suap dalam perijinan dan ironisnya mereka terpilih

melalui mekanisme pemilihan langsung yang artinya rakyat secara sadar menitipkan amanahnya kepada mereka.

Oleh sebab itu ada satu permasalahan besar dalam pola pikir para calon ini, apakah benar mereka ingin menjadi penguasa yang dicintai rakyat atau sekedar menjadi kaki tangan para perampas hak rakyat danpenyandera daerah. Jika memang permasalahannya seperti ini maka jangan diharapkan akan ada satu pembangunan yang terstruktur dan terintegrasi dengan kebutuhan rakyat yang dipimpinnya kecuali kebutuhan golongannya sendiri.

Tetapi juga ada banyak para calon penguasa yang memang bekerja untuk daerahnya dan menjadikan jabatan yang diembannya sebuah amanah karena ada 15 kepala daerah berprestasi yang mendapatkan penghargaan dari Presiden untuk tahun 2016, tetapi dibandingkan dengan yang terjerat korupsi

perbandingannya adalah 1 : 24 yang artinya adalah hanya ada 1 (satu) kepala daerah berprestasi dari 24

(duapuluh empat) kepala daerah lainnya yang isinya hanya gerombolan koruptor, sungguh mengerikan

untuk melihat daerah yang mereka pimpin.

Pertanyaannya adalah apakah rakyat sedemikian tidak pedulinya terhadap kondisi daerahnya atau mereka tidak punya saluran untuk menyampaikan suara – suaranya dan apakah mereka dibungkam

saluran bersuaranya? Melihat ini maka para calon harus mempunyai beban moral atas kondisi tersebut,

jangan para calon masuk kedalam bursa hanya untuk membodohi rakyat dengan predikat penguasa yang akan mereka dapatkan nanti, Karena amanah yang akan diberikan oleh rakyat adalah hak yang harus dikembalikan dalam bentuk kebaikan bagi rakyat.

Kaitannya dengan pola berulang seperti ini dan melihat kondisi rakyat yang sudah apatis maka para

calon sebaiknya benar memberikan kesempatan seluas–luasnya bagi rakyat untuk bertemu, berbincang, dan menyampaikan pendapatnya apabila sudah menjadi penguasa karena cara terbaik untuk mendengar suara rakyat adalah dengan berinteraksi langsung bukan hanya berdiam diri didalam kantor lalu hilangkan rasa memupuk pundi – pundi kekayaan karena secara umum kehidupan para penguasa ini sudah dijamin dan mereka seharusnya hanya bertugas melayani rakyat dan menjadikan rakyat sebagai dasar untuk bekerja serta berkarya sehingga suara yang telah dititipkan kepada mereka tidak berakhir sia–sia.

Dibawah ini saya sampaikan satu kutipan untuk para calon pelayan rakyat: “Para penguasa melihat segalanya lewat mata–mata, sebagaimana sapi melihat dengan indra penciumannya, dan para Brahmin melalui kitab–kitab suci, sedangkan sisa manusia lain melihat segalanya lewat mata mereka saja.” – Kautilya, filsuf India, abad tiga sebelum masehi Silahkan dibaca dan direnungkan. Akhir kata Selamat Berpesta dan ingat janji adalah Hutang. (*)

*)Dosen, Pengamat Politik, Penulis, dan Praktisi Internet Marketing

You may also read!

Suami di Depok Cekik Istri Hingga Tewas

DEPOK – Yerimia terbilang sadis terhadap istrinya Risma Sitinjak. Pria berusia 28 tahun itu mencekik Risma hingga tewas, di

Read More...

Luas Tanah Pasar Kemirimuka Depok SK Gubernur dan SHGB Beda

DEPOK – Ada fakta baru yang disajikan dalam pembacaan replik di sidang gugatan Derden Verzet, di Pengadilan Negeri (PN)

Read More...

Hewan Kurban Sehat Diberi Tanda Pin

DEPOK – Jelang Hari Raya Idul Adha, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Depok memeriksa hewan kurban di

Read More...

Mobile Sliding Menu