Ubah Wajah Ondel-Ondel agar Tidak Terlihat Seram

In Features

 

PELESTARI BUDAYA: Juwahir (kiri) bersama anaknya berfoto dengan ondel-ondel di rumahnya, Jalan Rawa Sari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Foto: Rizki Ahmad Fauzi/jawa pos

Upaya Juwahir Melestarikan Budaya dan Kesenian Betawi

Ondel-ondel sangat melekat bagi warga Jakarta. Anak kecil sampai engkong-engkong pasti tahu kesenian asli Betawi tersebut. Derasnya gempuran budaya barat tak menyusutkan semangat Juwahir untuk melestarikannya. Hal itu dilakukan karena kecintaannya terhadap budaya asli Jakarta tersebut.

Laporan: ACHMAD RIZKI, Jawa Pos (Group Radar Depok)

Nyok kite nonton ondel-ondel nyok. Nyok kite ngarak ondel-ondel. Nyok ondel-ondel ade anaknye… ngigelnye ter-iteran. Mak, bapak ondel-ondel ngibing. Ser ngarak penganten disunatin. Cret ngibingnye asyik dut-endutan. Dut yang ngiring igel-igelan.

SEPENGGAL lirik lagu ondel-ondel yang dipopulerkan seniman Betawi almarhum H Benyamin Sueb itu begitu populer di telinga. Berbicara mengenai ondel-ondel, sudah pasti tokohnya dia. Boneka raksasa khas tanah Betawi tersebut tidak pernah absen dalam acara hari jadi Ibu Kota Jakarta. Kehadirannya seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Tepat pukul 13.15, Rabu (18/1), cuaca sedikit berawan. Suasana terasa adem dan sejuk. Saat itu juga, Juwahir asyik mengajari anaknya bermain ondel-ondel di rumahnya, Jalan Rawa Sari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Alunan musik gambang kromong dan ondel-ondel khas Betawi mengiringi siang itu. Anaknya pun sangat menikmati bagaimana memeragakan gerak dan lenggak lenggok boneka besar asli Jakarta tersebut.

Juwahir tidak hanya memeragakan ondel-ondel. Laki-laki berbadan tinggi itu juga mengajari anak laki-lakinya membuat dan memahat kayu menjadi ondel-ondel.

Meski arus globalisasi semakin deras, ondel-ondel harus tetap ada dan eksis. Yang paling penting, bagaimana anak zaman sekarng dan seterusnya mengenak budaya asli Betawi tersebut.

Karena itu, berbagai cara harus dilakukan agar boneka besar asli ibu kota tersebut tetap terjaga. “Kalau bukan kite, siapa lagi? Itu anak saya setiap Sabtu-Minggu libur sekolah. Kalau ada pentas, ikut,” katanya lalu tersenyum.

Sejak 1997, pria kelahiran asli Cempaka Putih, Jakarta Pusat, tersebut mulai menekuni membuat ornamen ondel-ondel. Mulai pernak-pernik hingga boneka besar. Dia menyatakan mengikuti jejak ayahnya yang merupakan seniman Betawi. Khususnya bermain di area ondel-ondel. “Nah, saya generasi ketiga. Saya mau sampai aki-aki melestarikan budaya Betawi ini,” tuturnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, pria kelahiran 10 April 1974 tersebut terus melakukan eksperimen pada wajah ondel-ondel agar terlihat tidak menyeramkan. Jadi, anak melihat ondel-ondel ramah dan tidak takut karena bertaring.

Karena itu, sejak 1997, dia berani memodifikasi muka. Misalnya, memberikan tahi lalat. Untuk ondel-ondel perempuan, ada senyum pipit, rambut disanggul, dan berbagai bentuk muka lain.

Kemudian, yang laki-laki diberikan kumis, jenggot, dan berbagai hiasan lain. “Dengan begini, bisa diterima semua orang. Pastinya, anak-anak tidak takut melihat. Kalau takut, bagaimana mau melestarikannya,” jelasnya.

Bahkan, pria yang dikaruniai dua anak laki-laki tersebut berani menerobos tradisi menghilangkan ritual bakar kemenyan. Sebab, orang dulu melihat ondel-ondel untuk mengusir penyakit dan setan. Namun, dia menghilangkan demi melestarikan budaya Betawi. “Ondel-ondel harus manis,” tegasnya sambil memegang ornamen ondel-ondel.

Secara teknis, pembuatan ondel-ondel terbagi dalam dua komponen, rangka dan topeng. Agar bisa dibuat rangka, bahan yang dibutuhkan hanya bambu dan ijuk. Sementara itu, topeng dibuat dengan bahan kayu yang harus diukir.

Namun, sekarang topeng ondel-ondel lebih banyak dibuat dari bahan fiber glass. Kemudian, membedakannya pun mudah. Wajah ondel-ondel laku-laki dicat merah dan yang perempuan dicat putih. Itulah yang tidak diubah sehingga tidak menghilangkan wujud asli.

Dengan bekerja sebagai perajin ondel-ondel, Juwahir menuturkan mendapat kepuasan tersendiri. Sebagai seniman, pria lulusan STM tersebut malah bangga meski pendapatannya memang tergolong cukup. Bagaimana tidak, dia merupakan orang asli Betawi yang sangat mencintai kesenian dan budaya sendiri.

“Rezeki sudah ada yang atur, Bang. Tenang aja, yang penting ondel-ondel tetap ade,” tegas laki-laki berkulit sawo matang itu dengan logat Betawi.

Buktinya, hasil kerajinannya menjadi pesanan Pemprov DKI  setiap menyambut tamu luar negeri maupun tamu negara. Beberapa hotel bintang lima juga memesan setiap ulang tahun Jakarta untuk dijadikan pajangan.

Untuk membuat boneka asli besar, dibutuhakn waktu tersendiri. Cara menjalankannya, boneka tersebut harus dipikul dari dalam.

Menurut dia, membuat satu ondel-ondel membutuhkan waktu seminggu sampai sepuluh hari. Bahkan, demi membuat boneka raksasa, Juwahir rela keluar kerja dari salah satu perusahaan Korea. Hal itu dilakukan atas dasar kecintaannya pada budaya tanah leluhur. “Orang mau kate ape, emang gue pikirin. Yang penting Betawi,” tegasnya dengan nada sedikit meninggi.

Kemudian, dia menjelaskan sejarah singkat ondel-ondel. Orang Betawi menyebutkan, ondel-ondel sebelumnya adalah barongan. Artinya, bareng-bareng atau bersama-sama. Sebutan tersebut berasal dari kalimat ajakan logat Betawi. Yakni, nyok kite ngarak bareng-bareng. Namun, barongan seram karena bertaring. Setiap main, pertunjukan diiringi alat musik tiup yang lebih dominan. Selain itu, ada kemong, kenong, gendang, gong, dan tamborin.

Alat-alat tersebut wajib ada lantaran memang untuk menjaga ritme arak-arakan boneka raksasa itu.

“Aslinya, hanya diiringi gendang dan pencak silat. Perkembangan zaman, mengarak ondel-ondel diiringi musk gambang kromong atau tanjidor. Harus dibikin modern,” ungkapnya. (*/co3/ind)

You may also read!

Bali Bukan buat Liburan Sib…

BANDUNG – Persib Bandung akan melakoni laga tandang ke markas Bali United pada lanjutan Go-Jek Liga 1, pekan ke-11,

Read More...

Tim Thomas Indonesia Tembus Semifinal

BANGKOK–Tim Thomas Indonesia lolos ke babak semifinal Thomas-Uber Cup 2018 usai menaklukkan rival abadi, Malaysia di fase perempat final.

Read More...

Sebelum Catatan Amal Kita Terima

Oleh: H. Budi Subandriyo (Sekretaris DPD LDII Kota Depok) DEPOK – Ramadan tahun ini, sebagian besar putra-putri- kita tidak

Read More...

Mobile Sliding Menu